Sang istri
belum mau makan malam itu karena suaminya pun belum mau makan. Anak mereka –
wanita muda sekitar belasan tahun, baru akan menginjak usia kepala dua - sebaliknya,
tidak sabar menunggu bapaknya untuk makan bersama, ia pun mulai mencicipi hasil
masakan ibunya tadi siang.
Ia duduk di
meja makan tua itu sendirian - hanya ditemani oleh benda-benda yang tak pernah
beranjak dari posisinya, benda yang tak pernah bergerak dan berpindah semenjak
ia kecil – termasuk meja makan itu. Kemudian, ia pun berbicara, berbicara pada
hati dan Tuhan.
Satu
celetukan yang tak pernah bisa didengar ayahnya, tak bisa didengar ibunya, tak
bisa didengar meja makan itu walaupun tangannya menempel pada nya, tak bisa
didengar kursi yang ia duduki – ya mungkin karena tersamarkan musik yang dibuat
sendok dan garpu stainless yang
bersinggungan dengan piring putih ukuran sedang tempat ketupat, opor dan sambal
diwadahi.. yang jelas hanya hatinya dan Tuhan yang tau.
‘ Kalo ibu nunggu bapak buat makan, saya harusnya nunggu siapa untuk
makan ? ‘
pancing wanita itu
‘Tunggu suamimu ’ Ujar hati yang ingin majikannya menikah
‘ Kalo saya menunggu suami, adakah orang diluar sana yang menunggu
saya untuk dijadikan istri ? ‘ tanyanya kemudian pada hati yang semakin merisaukannya
Hati tak
dapat menjawab lagi. Ia bukan Tuhan yang memegang skenario hidup wanita yang
menjadi tempatnya bernaung selama beberapa belas tahun ini. Hati tak dapat
menjawab lagi karena ia takut membuat wanita itu semakin risau. Hati hanya
dapat berdoa pada Tuhan yang mendengarnya, yang bisa berbuat sesuatu pada
kerisauan wanita itu. Dan hati pun hanya dapat berharap jika wanita itu terus
melanjutkan makannya dan akan terus mengingat makan dan akan terus merindukan
makannya di meja makan tua itu walaupun ia belum memiliki orang yang akan ia
tunggu untuk makan bersama.
No comments:
Post a Comment