Thursday, August 8, 2013

Meja makan, Hati dan Tuhan

Sang istri belum mau makan malam itu karena suaminya pun belum mau makan. Anak mereka – wanita muda sekitar belasan tahun, baru akan menginjak usia kepala dua - sebaliknya, tidak sabar menunggu bapaknya untuk makan bersama, ia pun mulai mencicipi hasil masakan ibunya tadi siang.

Ia duduk di meja makan tua itu sendirian - hanya ditemani oleh benda-benda yang tak pernah beranjak dari posisinya, benda yang tak pernah bergerak dan berpindah semenjak ia kecil – termasuk meja makan itu. Kemudian, ia pun berbicara, berbicara pada hati dan Tuhan.

Satu celetukan yang tak pernah bisa didengar ayahnya, tak bisa didengar ibunya, tak bisa didengar meja makan itu walaupun tangannya menempel pada nya, tak bisa didengar kursi yang ia duduki – ya mungkin karena tersamarkan musik yang dibuat sendok dan garpu stainless yang bersinggungan dengan piring putih ukuran sedang tempat ketupat, opor dan sambal diwadahi.. yang jelas hanya hatinya dan Tuhan yang tau.

‘ Kalo ibu nunggu bapak buat makan, saya harusnya nunggu siapa untuk makan ? ‘ pancing wanita itu

Tunggu suamimu ’ Ujar hati yang ingin majikannya menikah

‘ Kalo saya menunggu suami, adakah orang diluar sana yang menunggu saya untuk dijadikan istri ? ‘ tanyanya kemudian pada hati yang semakin merisaukannya


Hati tak dapat menjawab lagi. Ia bukan Tuhan yang memegang skenario hidup wanita yang menjadi tempatnya bernaung selama beberapa belas tahun ini. Hati tak dapat menjawab lagi karena ia takut membuat wanita itu semakin risau. Hati hanya dapat berdoa pada Tuhan yang mendengarnya, yang bisa berbuat sesuatu pada kerisauan wanita itu. Dan hati pun hanya dapat berharap jika wanita itu terus melanjutkan makannya dan akan terus mengingat makan dan akan terus merindukan makannya di meja makan tua itu walaupun ia belum memiliki orang yang akan ia tunggu untuk makan bersama.  

No comments: