Sunday, October 20, 2013

Rindu,Hujan dan Malaikat

Malam yang kelam tanpa purnama yang menyinari
Hanya ada hujan dengan rintiknya yang membasahi bumi
Hanya ada kegelapan yang meliputiku
Bersama air mata yang menggenangi pelupuk


Mungkin saat hujan malaikat ikut turun dalam rintik halusnya
Menjadikan malam ini selembut angin yang mengusap air mata
Mungkin saat hujan malaikat berteduh dekat kamarku
Menjadikan aku bisa menitip rindu dalam doaku untuk mu


Ketika hujan menjadi alunan bisu kerinduan
Ketika hujan menjadikan aku melantunkan lagu rinduku
Aku berharap kau dapat mendengarnya
Walau jauh diseberang sana


Rindu ini memang tak membawa kau kembali padaku
Walau aku berteriak, berlari mencari dirimu
Rindu ini pun tak membawa kau mencari diriku
Ketika nisan sudah terpancang pada tanah merah itu


Tapi semoga malaikat yang turut bersama angin yang mengusap airmataku
Atau malaikat yang berteduh di tepian kamar ku saat hujan
Atau hujan yang menjadi orchestra ditengah kerinduanku
Bisa menyampaikan alunan doaku  yang merindu padamu


Semoga malaikat berbaik hati atau hanya sekadar mengasihani
Semoga malaikat menyampaikan atau hanya sekadar menyenangkan hati
Tapi mana ku tahu bahwa malaikat berbaik hati ?
Mungkin saja ia mengkhianati



Bisakah kau menjawabku, hujan ?

Sunday, October 13, 2013

Kejamnya Matahari

Matahari sudah membawa bayang hitam ini bersembunyi di balik tubuh pemiliknya, mengumpat dari sinarnya yang begitu kejam. Aku berdiri di pinggir terminal, menunggu angkutan kota yang akan membawaku pulang.

Bunyi klakson saling bersahutan. Entah memberi tanda apalagi selain menyuruh mobil di depannya jalan. Tanda kekesalan dan emosi, mungkin. Atau juga tanda protes kepada matahari yang sinarnya begitu kejam sehingga membuat peluh menetes dengan deras. Tak jarang, tumpahan perkataan-perkataan kasar pun meluncur begitu saja dari para supir angkutan umum itu. Kurasa semua gara-gara matahari yang terlalu kejam menyinari siang ini.

Dari kejauhan ku lihat pedagang yang membawa berkarung-karung dagangannya berjalan begitu pelan, memikul beban pada satu pundak ditengah sengatan sinar matahari. Peluh bukan lagi sekadar menetes tapi bisa dibilang telah membanjiri seluruh tubuhnya. Mungkin tubuhnya tak lagi kuat memikul beban-beban itu. Mungkin, jika ia bisa memilih, ia akan beristirahat di rumah bersama anak cucunya mengingat kondisinya yang sudah tidak muda lagi. Tapi dunia ini begitu kejam, tak peduli setua apa usia pedagang itu, tak peduli seberat apa beban yang ia bawa, tak peduli berapa uang yang ia hasilkan.. ia tetap sendiri memikul beban itu ditengah hiruk pikuk terminal siang itu. Ditambah lagi sinar matahari yang begitu kejam menyinari – membuat tubuh rentanya rebah pada trotoar.

Disaat yang sama, beberapa penumpang yang menunggu mobil yang akan mengangkut mereka, gelisah menunggu angkutan mereka datang. Ada yang sibuk dengan telepon selularnya, ada yang mampir di warung kecil dekat terminal untuk membeli minuman penghilang dahaga sambil duduk-duduk, kalau saja tetiba mobil angkutan umum yang menjadi tujuan mereka menghampiri. Dan orang yang berada disebelahku, gelisah menengok ke arah datangnya mobil-mobil yang berasal dari pintu masuk, bergumam mengeluh seolah-olah aku tidak merasakan apa yang ia rasakan. Akan tetapi, justru matahari tak peduli dengan kekesalan kami. Ia tetap bersinar dengan kejam dan semakin kejam seiring bergulirnya siang ini sebelum menghampiri senja.


Aku - yang sedari tadi berdiri mengamati hiruk pikuk terminal siang ini dan membidik beberapa momen-momen tersebut hanya dapat berpikir satu hal bahwa matahari tak sekejam yang dibayangkan. Jika tanpa dia tentu tak akan ada hiruk pikuk dan bidikan momen di terminal siang ini, siang esok dan siang-siang selanjutnya. Maafkan saja sinarnya yang mungkin terlalu bersemangat untuk menyemangati kita yang mencari nafkah didaerah penyinarannya. 

Sunday, September 29, 2013

Satu Kunci Bernama Komunikasi

Bumi tidak pernah menolak dirinya menjadi tempat menetap milyaran manusia yang berbeda-beda. Entah berbeda warna kulit, suku, bangsa, maupun agama. Ia tidak pernah berniat mengusir satu atau beberapa suku atau bangsa dari tanah nya yang luas ini. Ia tidak berharap hanya akan ada satu ‘penguasa’ dari satu bangsa karena ia tahu, apa yang menjadi miliknya ini hanya sebuah titipan dari Tuhan. Lalu, tahukah kamu jika hari ini bumi sedang menangis karena berbagai konflik serta kerusuhan yang terjadi di berbagai belahan dunia ? Tidak kah kau menyadarinya ?

Timur Tengah masih bergejolak. Kabar terbaru dari Mesir mengatakan bahwa keadaan masih tidak aman dan pendukung Mursi masih terus berunjuk rasa. Palestina dan Israel masih berjuang demi meraih kemenangan yang dikehendaki oleh masing-masing pihak. Kapan semua konflik ini berakhir ? Apakah Islam dan Barat masih akan terus berkonflik ? Apakah semua masyarakat Barat akan terus memerangi Islam ? Jika pun begitu, haruskah Islam tidak pernah ada sebelumnya agar dunia tetap aman dan tenteram  ?

Mungkin itu hanya sebagian kecil keadaan yang terekspose media massa. Selalu menggambarkan Islam dan Barat seperti minyak dan air yang tidak pernah bisa bersatu. Tapi, apa benar kah kenyataannya begitu ? Lalu bagaimana dengan pemberitaan lain di media yang memberitakan mengenai unjuk rasa warga Irlandia, Inggris, Jerman yang notabenenya bukan umat muslim juga melakukan demonstrasi terkait serangan Israel ke Palestina ? Apakah kita bisa mengeneralisasi bahwa semua masyarakat Barat pasti akan memerangi Islam ? Bagaimana dengan misalnya siswa Indonesia yang bergama Islam dan berjilbab ikut serta dalam pertukaran pelajar ke negeri Eropa dan Amerika – sudah berapa banyak yang mungkin menjadi korban pelecehan agama disana ? toh, sebagian besar mereka kembali ke sini dalam keadaan baik-baik saja dan membawa sejuta cerita menyenangkan ketika berada di negeri seberang sana. Apakah kita harus ikut mengeneralisasi perlakuan warga sipil Barat dengan pemerintahnya ? Jika begitu, akan jadi seperti apa bumi kita hari ini karena peperangan yang mendera? Bersyukurlah karena hingga hari ini toleransi dan saling menghormati itu masih ada di sekitar kita.

Ada satu cerita dari seorang senior yang mengikuti program pertukaran pelajar ke Amerika dimana ia bertemu dengan berbagai pelajar lain dari belahan dunia yang berbeda. Pada awalnya teman-temannya banyak bertanya tentang nya mengapa ia memakai jilbab sehingga ia berbeda dengan yang lain dan kemudian berlanjut pada pertanyaan-pertanyaan lain seputar dunia Islam. Singkat cerita, pada masa akhir pertukaran pelajar seorang teman senior saya yang berkebangsaan Amerika dan seorang Nasrani itu mengatakan pada beliau sebelum pulang ke Indonesia. “ Terima kasih karena telah membuat saya mengenal Islam lebih jauh, mengenal Islam dengan sebenarnya tanpa campur tangan media. Islam memang benar-benar indah. “

Ya, begitulah kenyataannya. Tidak banyak orang yang paham dan mau bertanya serta menggali pengetahuan tentang Islam yang sebenarnya. Begitu pun dengan kita yang muslim, tak banyak yang ingin mengetahui keadaan masyarakat Barat dalam memandang Islam sebenarnya. Hanya dapat berprasangka satu sama lain. Hanya dapat bertanya pada benda semu dan tak mendapat jawaban berarti. Melupakan komunikasi yang sebenarnya menjadi kunci utama toleransi dan penghancuran batas perbedaan antarmasyarakat dari berbagai belahan dunia.

Jangan salahkan Islam yang dituduh dengan jaringan terorisnya pun juga jangan salahkan Barat dengan ketidaktahuannya. Semua harus dikomunikasikan, ditanya dan dijelaskan lebih jauh dan rinci.

Terakhir, mengutip dari buku ‘ A World Without Islam ‘ oleh Graham E. Fuller, “ Even if the prophet Muhammad had never started Islam in the seventh century, the clash between East and West would have existed today, with the Christian Churches replacing Islam as the West’s adversary.”
*
*Tulisan ini untuk Lomba Naskah Buku Dialog 100*

Team Teaching sebagai Solusi Kesenjangan Pendidikan Antardaerah

Tidak dipungkiri di tengah-tengah globalisasi yang terjadi sekarang ini, masih banyak masalah yang terjadi di negeri ini. Salah satunya adalah masalah pendidikan. Terutama masalah kesenjangan pendidikan antardaerah. Daerah perkotaan sudah memiliki fasilitas dan tenaga pengajar yang cukup memadai untuk membantu negeri ini mencapai salah satu tujuannya – mencerdaskan kehidupan bangsa. Lalu, bagaimana dengan daerah-daerah terpencil, tertinggal atau daerah terdepan dan terbelakang yang notabenenya masih bermasalah dengan   kurangnya  tenaga pengajar, kinerja guru yang belum optimal dan proses pembelajaran yang masih konvensional ?  Perlu treatment khusus untuk mengatasi permasalahan kesenjangan pendidikan ini.

Salah satu treatment khusus untuk mengatasi permasalahan kesenjangan pendidikan antardaerah ini adalah dengan mengaplikasikan metode pengajaran inovatif yang dapat dilakukan melalui metode team teaching. Metode team teaching adalah aplikasi dari teori kerjasama dan kolaborasi dalam proses pembelajaran. Satu bentuk kerjasama yang melahirkan kepercayaan, integritas dan terobosan melalui pencapaian konsensus, kepemilikan, dan keterpaduan pada semua aspek – dalam hal ini untuk mencapai tujuan pendidikan.[1] Sedangkan menurut Quinn and Kanter ( 1984 ) team teaching  adalah regu mengajar antara dua instruktur yang berkualifikasi yang bersama-sama melakukan presentasi ke audiens. [2]

Sumber daya pengajar di daerah terpencil merupakan aset daerah. Akan tetapi, yang terjadi sekarang ini selain keterbatasan dari segi kuantitas, keterbatasan kompetensi pun menjadi masalah yang cukup penting di daerah sehingga mempengaruhi kemampuan mengajar guru tersebut di sekolah. Peningkatan kompetensi belum dijadikan solusi terpenting untuk pembangunan pendidikan. Padahal dalam UU No. 14/2005 tentang Guru dan Dosen pasal 14 huruf d disebutkan bahwa salah satu hak guru adalah mendapatkan fasilitas untuk meningkatkan kompetensi. [3] Kompetensi yang dimiliki guru pada nantinya akan berdampak pada proses dan metode pembelajaran yang diterapkan ke peserta didik.  Dalam PP No, 19/2005 tentang standar nasional pendidikan pasal 19 ayat 1-3 disebutkan bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Keteladanan pendidik dalam proses pembelajaran serta perencanaan, pelaksanaan, penilaian, dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien.[4]

Dengan permasalahan yang ada, metode team teaching diharapkan dapat menjadi salah satu solusi peningkatan keefektifan pembelajaran di daerah terpencil. Dari segi pengajar, metode team teaching memberi keuntungan untuk berpartisipasi dalam berkolaborasi mengembangkan pendekatan pembelajaran baru baik dari segi penyampaian atau pelatihan untuk peserta didik, dimulai dari segi perencanaan hingga evaluasi. Berbagi ilmu pengetahuan untuk mengatasi permasalahan akademik atau permasalahan peserta didik sehingga meningkatkan berbagai kemungkinan solusi dan pengawasan serta meningkatkan interaksi antara peserta didik dan pengajar , dan seperti yang dikatakan Robinson dan Schaible ( 1995 ) ketika pengajar berasal dari disiplin ilmu yang berbeda, masing-masing anggota dapat menguatkan pencerahan bidang ilmu sehingga menumbuhkan intelektualitas.[5] Walaupun mungkin pada kenyataannya akan ada satu pengajar yang mempunyai pengalaman serta pengetahuan lebih dibandingkan pengajar yang lain, tetapi kedudukan pengajar tersebut setara sehingga sharing ilmu pengetahuan juga dapat berjalan antarpengajar disini.

Dari segi peserta didik, penerimaan lebih dari satu pendapat dapat meningkatkan pemahaman siswa dan mampu mendapatkan pencapaian materi yang lebih tinggi serta dapat memperbaiki keterampilan antarindividu serta menaikkan rasa hormat antarsiswa dalam kelompok kerja ( Robinson dan Schaible, 1995 ).[6]  Maka dari itu, peran pengajar untuk mengajarkan peserta didik yang berada di daerah sangat dituntut integritasnya dalam penyampaian materi dan peningkatan pemahaman seefektif mungkin dengan contoh dan aplikasi nyata dalam proses pembelajaran.

Dengan demikian, metode team teaching bisa menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan keefektifan pengajaran di daerah terpencil dengan kondisi terbatasnya pengajar di daerah dengan berkolaborasi mengembangkan pendekatan baru agar penyampaian materi pada peserta didik bisa maksimal.


*Esai untuk seleksi Gerakan UI Mengajar Angkt.3 Tahap I *


[1] Rodhiyah.2012. Team teaching sebagai proses kerjasama, cari sumbernya.Optimalisasi Pencapaian Tujuan Pembelajaran Melalui Penerapan Team Teaching (online). http://www.deptan.go.id/news/detail.php?id=957; (diakses pada 21 September 2013 pukul 19.12)
[2]Goetz,Karin. 2000. Perspectives on Team Teaching. A Semester I Independent Inquiry (online). http://people.ucalgary.ca/~egallery/goetz.html ( diakses pada 21 September 2013 pukul 23.56)
[3] http://advokat-rgsmitra.com/( diakses pada 22 September 2013 pukul 13.36)
[4] datahukum.pnri.go.id/index.php?...ppno19th2005...tahun-2005 (diakses pada 22 September 2013 pukul 10.43)
[5] Goetz,Karin. 2000. Perspectives on Team Teaching. A Semester I Independent Inquiry (online). http://people.ucalgary.ca/~egallery/goetz.html (diakses pada 21 September 2013 pukul 23.56)
[6] ibid

Friday, September 6, 2013

Jeda

Kita butuh istirahat dalam sebuah perjalanan
Butuh spasi dalam setiap kata yang membentuk kalimat
Bahkan, rel kereta yang disebut-sebut sebagai benda mati, butuh ruang untuk dapat memuai dan sedikit bernapas
Lalu , adakah jeda dalam kebahagiaan ?
Ada. Sebuah luka. Jeda untuk bisa lebih memaknai kebahagiaan dan untuk mengingat bahwa luka pun ingin dibahagiakan

Benang Kusut


Ada yang membuatku kalut sampai malam telah larut. Dimulai ketika aku mulai menyulut dengan beberapa kata pada siang itu. Menjadikan sisa hari ku kulalui dengan hati kusut.

Aku hanya dapat menatap kosong aspal yang tak merintih ketika berton-ton beban setiap hari, bahkan setiap detik ada saja yang melindasnya. Jantung ini berdebar keras, otak ini kembali merefresh untaian kata yang terlanjur keluar tanpa dikomandoi.

Sampai pada tengah malam, ia yang diseberang sana berbicara pada ku melalui kata-kata semu, menginginkan sebuah pertemuan pada satu hari nanti. Pertemuan yang entah akan terwujud atau tidak. Pertemuan yang entah akan kudatangi atau tidak. Pertemuan yang tidak aku inginkan.

Tangan ini kemudian meraih telepon selular kecil itu, mengetik sebuah pertanyaan dalam sebuah pesan elektronik – yang kemudian baru dibalas keeseokan harinya, dan menjawab siapa sesungguhnya orang yang telah lebih dulu berbicara pada nya sebelum aku siap mengatakan sendiri pada nya yang berbicara melalui kata-kata semu.

Tapi aku harus berbicara, tak boleh hanya diam dalam kesemrawutan situasi, tak boleh hanya diam ketika yang diseberang sana makin membuat semu perilaku. Aku harus membenarkan untaian kata yang membuat hari dan hatiku tetiba menjadi kusut. Mengusut tuntas hal yang satu ini agar benang kusut ini kembali lurus – merentang seperti Kami yang dulu berjalan sejajar dalam satu irama, mengeluarkan cerita-cerita dari satu gulungan babak kehidupan.

Monday, September 2, 2013

Bersama Bunga

Bunga yang ku ambil dari taman belakang rumah. Ada yang merah dan yang putih. Ku simpan sebagai tanda untuk berbicara pada mu nanti sore.  Saat waletwalet menjadi pemanis horizon sore dibalik gedung nan tinggi pada hamparan permadani hijau.

Entah mengapa aku memilih bunga untuk menemaniku sore nanti. Padahal ia tak dapat berbicara, bahkan hanya sekadar memberi sebuah isyarat pertanda sesuatu. Ku percantik ia dengan menyematkan pita merah lambang keseriusan ku untuk mengadiahimu. Sederhana tapi semoga bermakna.

Langkah kaki yang berderap disandingkan detak jantung yang berdebar menyusuri jalan dengan langkah pasti didampingi senyuman termanis untuk menyambut mu di depan gerbang – sudah kubayangkan dan akan ku persiapkan. Mendekati mu bersama bunga ini, berbicara didampingi bunga nan cantik ini, ku berharap dapat mengatakannya pada mu hari ini.

Bersama bunga ku katakan sesuatu yang membuat jantung ini berdebar, berharap semoga langit menyampaikan rindu disaat yang tepat bersama nya – yang ku paham bahwa ia adalah satu instrumen pengikat antara aku dan kamu. Walau ia hanya berada pada tangan ku kemudian berpindah ke tanganmu.


Dibawah senja sore, aku berterima kasih pada bunga yang auranya berbicara. Karena tanpa nya aku tak dapat berkata-kata – ditelan halilintar ditenggelamkan hujan.