Matahari
sudah membawa bayang hitam ini bersembunyi di balik tubuh pemiliknya, mengumpat
dari sinarnya yang begitu kejam. Aku berdiri di pinggir terminal, menunggu
angkutan kota yang akan membawaku pulang.
Bunyi
klakson saling bersahutan. Entah memberi tanda apalagi selain menyuruh mobil di
depannya jalan. Tanda kekesalan dan emosi, mungkin. Atau juga tanda protes
kepada matahari yang sinarnya begitu kejam sehingga membuat peluh menetes
dengan deras. Tak jarang, tumpahan perkataan-perkataan kasar pun meluncur
begitu saja dari para supir angkutan umum itu. Kurasa semua gara-gara matahari
yang terlalu kejam menyinari siang ini.
Dari
kejauhan ku lihat pedagang yang membawa berkarung-karung dagangannya berjalan
begitu pelan, memikul beban pada satu pundak ditengah sengatan sinar matahari.
Peluh bukan lagi sekadar menetes tapi bisa dibilang telah membanjiri seluruh
tubuhnya. Mungkin tubuhnya tak lagi kuat memikul beban-beban itu. Mungkin, jika
ia bisa memilih, ia akan beristirahat di rumah bersama anak cucunya mengingat
kondisinya yang sudah tidak muda lagi. Tapi dunia ini begitu kejam, tak peduli
setua apa usia pedagang itu, tak peduli seberat apa beban yang ia bawa, tak
peduli berapa uang yang ia hasilkan.. ia tetap sendiri memikul beban itu
ditengah hiruk pikuk terminal siang itu. Ditambah lagi sinar matahari yang
begitu kejam menyinari – membuat tubuh rentanya rebah pada trotoar.
Disaat yang
sama, beberapa penumpang yang menunggu mobil yang akan mengangkut mereka,
gelisah menunggu angkutan mereka datang. Ada yang sibuk dengan telepon
selularnya, ada yang mampir di warung kecil dekat terminal untuk membeli
minuman penghilang dahaga sambil duduk-duduk, kalau saja tetiba mobil angkutan
umum yang menjadi tujuan mereka menghampiri. Dan orang yang berada disebelahku,
gelisah menengok ke arah datangnya mobil-mobil yang berasal dari pintu masuk,
bergumam mengeluh seolah-olah aku tidak merasakan apa yang ia rasakan. Akan
tetapi, justru matahari tak peduli dengan kekesalan kami. Ia tetap bersinar
dengan kejam dan semakin kejam seiring bergulirnya siang ini sebelum
menghampiri senja.
Aku - yang
sedari tadi berdiri mengamati hiruk pikuk terminal siang ini dan membidik
beberapa momen-momen tersebut hanya dapat berpikir satu hal bahwa matahari tak sekejam
yang dibayangkan. Jika tanpa dia tentu tak akan ada hiruk pikuk dan bidikan
momen di terminal siang ini, siang esok dan siang-siang selanjutnya. Maafkan
saja sinarnya yang mungkin terlalu bersemangat untuk menyemangati kita yang
mencari nafkah didaerah penyinarannya.
No comments:
Post a Comment