Sunday, October 13, 2013

Kejamnya Matahari

Matahari sudah membawa bayang hitam ini bersembunyi di balik tubuh pemiliknya, mengumpat dari sinarnya yang begitu kejam. Aku berdiri di pinggir terminal, menunggu angkutan kota yang akan membawaku pulang.

Bunyi klakson saling bersahutan. Entah memberi tanda apalagi selain menyuruh mobil di depannya jalan. Tanda kekesalan dan emosi, mungkin. Atau juga tanda protes kepada matahari yang sinarnya begitu kejam sehingga membuat peluh menetes dengan deras. Tak jarang, tumpahan perkataan-perkataan kasar pun meluncur begitu saja dari para supir angkutan umum itu. Kurasa semua gara-gara matahari yang terlalu kejam menyinari siang ini.

Dari kejauhan ku lihat pedagang yang membawa berkarung-karung dagangannya berjalan begitu pelan, memikul beban pada satu pundak ditengah sengatan sinar matahari. Peluh bukan lagi sekadar menetes tapi bisa dibilang telah membanjiri seluruh tubuhnya. Mungkin tubuhnya tak lagi kuat memikul beban-beban itu. Mungkin, jika ia bisa memilih, ia akan beristirahat di rumah bersama anak cucunya mengingat kondisinya yang sudah tidak muda lagi. Tapi dunia ini begitu kejam, tak peduli setua apa usia pedagang itu, tak peduli seberat apa beban yang ia bawa, tak peduli berapa uang yang ia hasilkan.. ia tetap sendiri memikul beban itu ditengah hiruk pikuk terminal siang itu. Ditambah lagi sinar matahari yang begitu kejam menyinari – membuat tubuh rentanya rebah pada trotoar.

Disaat yang sama, beberapa penumpang yang menunggu mobil yang akan mengangkut mereka, gelisah menunggu angkutan mereka datang. Ada yang sibuk dengan telepon selularnya, ada yang mampir di warung kecil dekat terminal untuk membeli minuman penghilang dahaga sambil duduk-duduk, kalau saja tetiba mobil angkutan umum yang menjadi tujuan mereka menghampiri. Dan orang yang berada disebelahku, gelisah menengok ke arah datangnya mobil-mobil yang berasal dari pintu masuk, bergumam mengeluh seolah-olah aku tidak merasakan apa yang ia rasakan. Akan tetapi, justru matahari tak peduli dengan kekesalan kami. Ia tetap bersinar dengan kejam dan semakin kejam seiring bergulirnya siang ini sebelum menghampiri senja.


Aku - yang sedari tadi berdiri mengamati hiruk pikuk terminal siang ini dan membidik beberapa momen-momen tersebut hanya dapat berpikir satu hal bahwa matahari tak sekejam yang dibayangkan. Jika tanpa dia tentu tak akan ada hiruk pikuk dan bidikan momen di terminal siang ini, siang esok dan siang-siang selanjutnya. Maafkan saja sinarnya yang mungkin terlalu bersemangat untuk menyemangati kita yang mencari nafkah didaerah penyinarannya. 

No comments: