Bumi tidak pernah menolak dirinya menjadi tempat menetap milyaran
manusia yang berbeda-beda. Entah berbeda warna kulit, suku, bangsa, maupun
agama. Ia tidak pernah berniat mengusir satu atau beberapa suku atau bangsa
dari tanah nya yang luas ini. Ia tidak berharap hanya akan ada satu ‘penguasa’
dari satu bangsa karena ia tahu, apa yang menjadi miliknya ini hanya sebuah
titipan dari Tuhan. Lalu, tahukah kamu jika hari ini bumi sedang menangis
karena berbagai konflik serta kerusuhan yang terjadi di berbagai belahan dunia
? Tidak kah kau menyadarinya ?
Timur Tengah
masih bergejolak. Kabar terbaru dari Mesir mengatakan bahwa keadaan masih tidak
aman dan pendukung Mursi masih terus berunjuk rasa. Palestina dan Israel masih
berjuang demi meraih kemenangan yang dikehendaki oleh masing-masing pihak.
Kapan semua konflik ini berakhir ? Apakah Islam dan Barat masih akan terus
berkonflik ? Apakah semua masyarakat Barat akan terus memerangi Islam ? Jika
pun begitu, haruskah Islam tidak pernah ada sebelumnya agar dunia tetap aman
dan tenteram ?
Mungkin itu
hanya sebagian kecil keadaan yang terekspose media massa. Selalu menggambarkan
Islam dan Barat seperti minyak dan air yang tidak pernah bisa bersatu. Tapi,
apa benar kah kenyataannya begitu ? Lalu bagaimana dengan pemberitaan lain di
media yang memberitakan mengenai unjuk rasa warga Irlandia, Inggris, Jerman
yang notabenenya bukan umat muslim juga melakukan demonstrasi terkait serangan
Israel ke Palestina ? Apakah kita bisa mengeneralisasi bahwa semua masyarakat
Barat pasti akan memerangi Islam ? Bagaimana dengan misalnya siswa Indonesia
yang bergama Islam dan berjilbab ikut serta dalam pertukaran pelajar ke negeri
Eropa dan Amerika – sudah berapa banyak yang mungkin menjadi korban pelecehan
agama disana ? toh, sebagian besar mereka kembali ke sini dalam keadaan
baik-baik saja dan membawa sejuta cerita menyenangkan ketika berada di negeri
seberang sana. Apakah kita harus ikut mengeneralisasi perlakuan warga sipil
Barat dengan pemerintahnya ? Jika begitu, akan jadi seperti apa bumi kita hari
ini karena peperangan yang mendera? Bersyukurlah karena hingga hari ini
toleransi dan saling menghormati itu masih ada di sekitar kita.
Ada satu
cerita dari seorang senior yang mengikuti program pertukaran pelajar ke Amerika
dimana ia bertemu dengan berbagai pelajar lain dari belahan dunia yang berbeda.
Pada awalnya teman-temannya banyak bertanya tentang nya mengapa ia memakai
jilbab sehingga ia berbeda dengan yang lain dan kemudian berlanjut pada
pertanyaan-pertanyaan lain seputar dunia Islam. Singkat cerita, pada masa akhir
pertukaran pelajar seorang teman senior saya yang berkebangsaan Amerika dan
seorang Nasrani itu mengatakan pada beliau sebelum pulang ke Indonesia. “ Terima kasih karena telah membuat saya
mengenal Islam lebih jauh, mengenal Islam dengan sebenarnya tanpa campur tangan
media. Islam memang benar-benar indah. “
Ya,
begitulah kenyataannya. Tidak banyak orang yang paham dan mau bertanya serta
menggali pengetahuan tentang Islam yang sebenarnya. Begitu pun dengan kita yang
muslim, tak banyak yang ingin mengetahui keadaan masyarakat Barat dalam
memandang Islam sebenarnya. Hanya dapat berprasangka satu sama lain. Hanya
dapat bertanya pada benda semu dan tak mendapat jawaban berarti. Melupakan
komunikasi yang sebenarnya menjadi kunci utama toleransi dan penghancuran batas
perbedaan antarmasyarakat dari berbagai belahan dunia.
Jangan
salahkan Islam yang dituduh dengan jaringan terorisnya pun juga jangan salahkan
Barat dengan ketidaktahuannya. Semua harus dikomunikasikan, ditanya dan
dijelaskan lebih jauh dan rinci.
Terakhir,
mengutip dari buku ‘ A World Without
Islam ‘ oleh Graham E. Fuller, “ Even
if the prophet Muhammad had never started Islam in the seventh century, the clash
between East and West would have existed today, with the Christian Churches
replacing Islam as the West’s adversary.”
*
*Tulisan ini untuk Lomba Naskah Buku Dialog 100*
No comments:
Post a Comment