Tidak
dipungkiri di tengah-tengah globalisasi yang terjadi sekarang ini, masih banyak
masalah yang terjadi di negeri ini. Salah satunya adalah masalah pendidikan.
Terutama masalah kesenjangan pendidikan antardaerah. Daerah perkotaan sudah
memiliki fasilitas dan tenaga pengajar yang cukup memadai untuk membantu negeri
ini mencapai salah satu tujuannya – mencerdaskan kehidupan bangsa. Lalu,
bagaimana dengan daerah-daerah terpencil, tertinggal atau daerah terdepan dan
terbelakang yang notabenenya masih bermasalah dengan kurangnya
tenaga pengajar, kinerja guru yang belum optimal dan proses pembelajaran
yang masih konvensional ? Perlu treatment khusus untuk mengatasi
permasalahan kesenjangan pendidikan ini.
Salah satu treatment khusus untuk mengatasi
permasalahan kesenjangan pendidikan antardaerah ini adalah dengan
mengaplikasikan metode pengajaran inovatif yang dapat dilakukan melalui metode team teaching. Metode team teaching adalah aplikasi dari teori
kerjasama dan kolaborasi dalam proses pembelajaran. Satu bentuk kerjasama yang
melahirkan kepercayaan, integritas dan terobosan melalui pencapaian konsensus,
kepemilikan, dan keterpaduan pada semua aspek – dalam hal ini untuk mencapai
tujuan pendidikan.[1] Sedangkan
menurut Quinn and Kanter ( 1984 ) team
teaching adalah regu mengajar antara
dua instruktur yang berkualifikasi yang bersama-sama melakukan presentasi ke
audiens. [2]
Sumber daya
pengajar di daerah terpencil merupakan aset daerah. Akan tetapi, yang terjadi
sekarang ini selain keterbatasan dari segi kuantitas, keterbatasan kompetensi pun
menjadi masalah yang cukup penting di daerah sehingga mempengaruhi kemampuan
mengajar guru tersebut di sekolah. Peningkatan kompetensi belum dijadikan
solusi terpenting untuk pembangunan pendidikan. Padahal dalam UU No. 14/2005
tentang Guru dan Dosen pasal 14 huruf d disebutkan bahwa salah satu hak guru
adalah mendapatkan fasilitas untuk meningkatkan kompetensi. [3]
Kompetensi yang dimiliki guru pada nantinya akan berdampak pada proses dan
metode pembelajaran yang diterapkan ke peserta didik. Dalam PP No, 19/2005 tentang standar nasional
pendidikan pasal 19 ayat 1-3 disebutkan bahwa proses pembelajaran pada satuan
pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan,
menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan
ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan
bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
Keteladanan pendidik dalam proses pembelajaran serta perencanaan, pelaksanaan,
penilaian, dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses
pembelajaran yang efektif dan efisien.[4]
Dengan permasalahan yang ada, metode team teaching diharapkan dapat menjadi salah satu solusi peningkatan keefektifan pembelajaran di daerah terpencil. Dari segi pengajar, metode team teaching memberi keuntungan untuk berpartisipasi dalam berkolaborasi mengembangkan pendekatan pembelajaran baru baik dari segi penyampaian atau pelatihan untuk peserta didik, dimulai dari segi perencanaan hingga evaluasi. Berbagi ilmu pengetahuan untuk mengatasi permasalahan akademik atau permasalahan peserta didik sehingga meningkatkan berbagai kemungkinan solusi dan pengawasan serta meningkatkan interaksi antara peserta didik dan pengajar , dan seperti yang dikatakan Robinson dan Schaible ( 1995 ) ketika pengajar berasal dari disiplin ilmu yang berbeda, masing-masing anggota dapat menguatkan pencerahan bidang ilmu sehingga menumbuhkan intelektualitas.[5] Walaupun mungkin pada kenyataannya akan ada satu pengajar yang mempunyai pengalaman serta pengetahuan lebih dibandingkan pengajar yang lain, tetapi kedudukan pengajar tersebut setara sehingga sharing ilmu pengetahuan juga dapat berjalan antarpengajar disini.
Dari segi peserta didik, penerimaan lebih dari satu pendapat dapat meningkatkan pemahaman siswa dan mampu mendapatkan pencapaian materi yang lebih tinggi serta dapat memperbaiki keterampilan antarindividu serta menaikkan rasa hormat antarsiswa dalam kelompok kerja ( Robinson dan Schaible, 1995 ).[6] Maka dari itu, peran pengajar untuk mengajarkan peserta didik yang berada di daerah sangat dituntut integritasnya dalam penyampaian materi dan peningkatan pemahaman seefektif mungkin dengan contoh dan aplikasi nyata dalam proses pembelajaran.
Dengan demikian, metode team teaching bisa menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan keefektifan pengajaran di daerah terpencil dengan kondisi terbatasnya pengajar di daerah dengan berkolaborasi mengembangkan pendekatan baru agar penyampaian materi pada peserta didik bisa maksimal.
*Esai untuk seleksi Gerakan UI Mengajar Angkt.3 Tahap I *
[1] Rodhiyah.2012. Team teaching
sebagai proses kerjasama, cari sumbernya.Optimalisasi
Pencapaian Tujuan Pembelajaran Melalui Penerapan Team Teaching (online). http://www.deptan.go.id/news/detail.php?id=957;
(diakses pada 21 September 2013 pukul 19.12)
[2]Goetz,Karin.
2000. Perspectives on Team Teaching. A Semester I Independent Inquiry (online). http://people.ucalgary.ca/~egallery/goetz.html
( diakses pada 21 September 2013 pukul 23.56)
[4] datahukum.pnri.go.id/index.php?...ppno19th2005...tahun-2005
(diakses pada 22 September 2013 pukul 10.43)
[5] Goetz,Karin. 2000. Perspectives on
Team Teaching. A Semester I Independent Inquiry (online). http://people.ucalgary.ca/~egallery/goetz.html
(diakses pada 21 September 2013 pukul 23.56)
No comments:
Post a Comment