Friday, September 6, 2013

Benang Kusut


Ada yang membuatku kalut sampai malam telah larut. Dimulai ketika aku mulai menyulut dengan beberapa kata pada siang itu. Menjadikan sisa hari ku kulalui dengan hati kusut.

Aku hanya dapat menatap kosong aspal yang tak merintih ketika berton-ton beban setiap hari, bahkan setiap detik ada saja yang melindasnya. Jantung ini berdebar keras, otak ini kembali merefresh untaian kata yang terlanjur keluar tanpa dikomandoi.

Sampai pada tengah malam, ia yang diseberang sana berbicara pada ku melalui kata-kata semu, menginginkan sebuah pertemuan pada satu hari nanti. Pertemuan yang entah akan terwujud atau tidak. Pertemuan yang entah akan kudatangi atau tidak. Pertemuan yang tidak aku inginkan.

Tangan ini kemudian meraih telepon selular kecil itu, mengetik sebuah pertanyaan dalam sebuah pesan elektronik – yang kemudian baru dibalas keeseokan harinya, dan menjawab siapa sesungguhnya orang yang telah lebih dulu berbicara pada nya sebelum aku siap mengatakan sendiri pada nya yang berbicara melalui kata-kata semu.

Tapi aku harus berbicara, tak boleh hanya diam dalam kesemrawutan situasi, tak boleh hanya diam ketika yang diseberang sana makin membuat semu perilaku. Aku harus membenarkan untaian kata yang membuat hari dan hatiku tetiba menjadi kusut. Mengusut tuntas hal yang satu ini agar benang kusut ini kembali lurus – merentang seperti Kami yang dulu berjalan sejajar dalam satu irama, mengeluarkan cerita-cerita dari satu gulungan babak kehidupan.

No comments: