Ada yang
membuatku kalut sampai malam telah larut. Dimulai ketika aku mulai menyulut dengan
beberapa kata pada siang itu. Menjadikan sisa hari ku kulalui dengan hati kusut.
Aku hanya
dapat menatap kosong aspal yang tak merintih ketika berton-ton beban setiap
hari, bahkan setiap detik ada saja yang melindasnya. Jantung ini berdebar
keras, otak ini kembali merefresh untaian kata yang terlanjur keluar tanpa
dikomandoi.
Sampai pada
tengah malam, ia yang diseberang sana berbicara pada ku melalui kata-kata semu,
menginginkan sebuah pertemuan pada satu hari nanti. Pertemuan yang entah akan
terwujud atau tidak. Pertemuan yang entah akan kudatangi atau tidak. Pertemuan yang
tidak aku inginkan.
Tangan ini
kemudian meraih telepon selular kecil itu, mengetik sebuah pertanyaan dalam
sebuah pesan elektronik – yang kemudian baru dibalas keeseokan harinya, dan
menjawab siapa sesungguhnya orang yang telah lebih dulu berbicara pada nya
sebelum aku siap mengatakan sendiri pada nya yang berbicara melalui kata-kata
semu.
Tapi aku
harus berbicara, tak boleh hanya diam dalam kesemrawutan situasi, tak boleh
hanya diam ketika yang diseberang sana makin membuat semu perilaku. Aku harus
membenarkan untaian kata yang membuat hari dan hatiku tetiba menjadi kusut. Mengusut
tuntas hal yang satu ini agar benang kusut ini kembali lurus – merentang seperti
Kami yang dulu berjalan sejajar dalam satu irama, mengeluarkan cerita-cerita
dari satu gulungan babak kehidupan.
No comments:
Post a Comment