Thursday, July 25, 2013

Bidikan Lensa [ PART 1 ]

-Kumpulan cerita 15,17,19,dan 22 Juli 2013-

Setiap momen adalah kepingan memori yang tak bisa dibuang begitu saja, jadi jangan lupakan itu walau hanya aspal atau bumi dan langit yang terbidik. 

Berbeda dengan potret Ramadhan 1434 H. Aku hanya mempunyai dua agenda khusus untuk berbuka puasa bersama, agenda dengan ‘lingkaran’ku serta bersama angkatan 33. Ya, hanya itu yang aku khususkan. Sebenarnya rumah kecilku disana memanggilku, tapi apa daya, hari nya berbentrokkan dengan ifthor lingkaranku. Jadi, ku putuskan untuk mengahdiri ifthor ‘spesial’ bersama lingkaranku itu.

Lalu, selebihnya ? kau mengagendakan untuk menjadi anak rumahan ? Tentu saja tidak. Aku bukan tipe orang yang berdiam diri seperti itu. Haha. Bukannya ingin sombong, tapi kau tentu tau jika bola ini kau berhentikan gelindingannya apa yang akan terjadi nantinya. Sudahlah. Aku tak perlu menceritakannya lebih jauh padamu karena bukan hal itu yang sebenarnya ingin ku ceritakan. Beberapa potret Ramadhan yang terbidik lensa kamera bersama keluarga ku yang lain di FISIP.
***
Aku sudah ceritakan tadi di awal – aku tak mempunyai banyak agenda khusus untuk buka puasa bersama dengan banyak orang, hanya beberapa saja dan yang ku anggap penting. Tapi, kau tahu, aku buka puasa berkali-kali dengan keluarga ku yang satu ini. Tak direncanakan sebenarnya untuk membuat acara buka puasa khusus satu keluarga organisasi ini, tapi kenyataannya itu sudah menjadi bagian dari agenda yang kami lakukan bersama.
***
15 Juli 2013

Jalanan TB. Simatupang sama seperti hari-hari sebelumnya. Lampu lalu lintas bergantian minta giliran untuk menyalakan lampu merahnya. Memaksa para pengendara menghentikan laju kendaraannya, dan mempersilakan pejalan kaki yang mungkin ingin menyeberangi jalan. Ya, ‘rutinitas’ itu berulang terus menerus entah sampai kapan dihari ini.

Kami berada di sisi lain jalan itu, menunggu lampu merah menyala, menyeberang dan kemudian berpencar untuk membagikan ‘amunisi’ yang telah disiapkan. Banyak titik yang menjadi sasaran pembagian amunisi itu. Banyak juga pasukan yang dikerahkan untuk menjadi eksekutornya namun, entahlah ku rasa amunisi yang disiapkan tidak cukup memadai untuk kami berekspansi lebih besar dan lebih lama lagi.

Kau tau, tidak lebih dari tiga puluh menit amunisi itu telah habis dibagikan kepada pengendara yang memang beruntung mendapatkan itu. Hey, amunisi ini tidak berbahaya ! barang siapa yang mendapatkannya, ia pun mendapat keberkahan dari amunisi ini. Ya, Insyaa Allah.

Di pinggiran jalan, di bawah pohon, dipayungi langit yang masih menunggu matahari pulang ke peraduannya, kami membuka dan memakan apa yang memang menjadi hak kami. Walaupun memang tak dipungkiri sebagian yang masih berlebih kami bagikan lagi kepada orang yang memang dirasa lebih membutuhkan daripada kami. Hanya seteguk dua teguk dan mungkin satu biji kurma cukup untuk kami. Tak ada yang lebih ‘mengenyangkan’ dibandingkan momen yang kami lewati sore itu. Coba kau bayangkan..sore itu serasa aku dan mereka berbuka puasa bersama seluruh pengguna jalan TB. Simatupang. Yaa seluruhnya!. Haha. 

Kau paham kan, kebahagiaan itu mudah kau dapat dimana saja, asal hatimu juga memainkan setiap detik dengan senyuman.

***
Bersambung..

No comments: