Setiap momen adalah kepingan memori yang tak bisa dibuang begitu
saja, jadi jangan lupakan itu walau hanya aspal atau bumi dan langit yang
terbidik.
Berbeda
dengan potret Ramadhan 1434 H. Aku hanya mempunyai dua agenda khusus untuk
berbuka puasa bersama, agenda dengan ‘lingkaran’ku serta bersama angkatan 33.
Ya, hanya itu yang aku khususkan. Sebenarnya rumah kecilku disana memanggilku,
tapi apa daya, hari nya berbentrokkan dengan ifthor lingkaranku. Jadi, ku
putuskan untuk mengahdiri ifthor ‘spesial’ bersama lingkaranku itu.
Lalu,
selebihnya ? kau mengagendakan untuk menjadi anak rumahan ? Tentu saja tidak.
Aku bukan tipe orang yang berdiam diri seperti itu. Haha. Bukannya ingin
sombong, tapi kau tentu tau jika bola ini kau berhentikan gelindingannya apa
yang akan terjadi nantinya. Sudahlah. Aku tak perlu menceritakannya lebih jauh
padamu karena bukan hal itu yang sebenarnya ingin ku ceritakan. Beberapa potret
Ramadhan yang terbidik lensa kamera bersama keluarga ku yang lain di FISIP.
***
Aku
sudah ceritakan tadi di awal – aku tak mempunyai banyak agenda khusus untuk
buka puasa bersama dengan banyak orang, hanya beberapa saja dan yang ku anggap
penting. Tapi, kau tahu, aku buka puasa berkali-kali dengan keluarga ku yang
satu ini. Tak direncanakan sebenarnya untuk membuat acara buka puasa khusus
satu keluarga organisasi ini, tapi kenyataannya itu sudah menjadi bagian dari
agenda yang kami lakukan bersama.
***
15
Juli 2013
Jalanan
TB. Simatupang sama seperti hari-hari sebelumnya. Lampu lalu lintas bergantian
minta giliran untuk menyalakan lampu merahnya. Memaksa para pengendara
menghentikan laju kendaraannya, dan mempersilakan pejalan kaki yang mungkin
ingin menyeberangi jalan. Ya, ‘rutinitas’ itu berulang terus menerus entah
sampai kapan dihari ini.
Kami
berada di sisi lain jalan itu, menunggu lampu merah menyala, menyeberang dan
kemudian berpencar untuk membagikan ‘amunisi’ yang telah disiapkan. Banyak
titik yang menjadi sasaran pembagian amunisi itu. Banyak juga pasukan yang
dikerahkan untuk menjadi eksekutornya namun, entahlah ku rasa amunisi yang
disiapkan tidak cukup memadai untuk kami berekspansi lebih besar dan lebih lama
lagi.
Kau
tau, tidak lebih dari tiga puluh menit amunisi itu telah habis dibagikan kepada
pengendara yang memang beruntung mendapatkan itu. Hey, amunisi ini tidak
berbahaya ! barang siapa yang mendapatkannya, ia pun mendapat keberkahan dari
amunisi ini. Ya, Insyaa Allah.
Di
pinggiran jalan, di bawah pohon, dipayungi langit yang masih menunggu matahari
pulang ke peraduannya, kami membuka dan memakan apa yang memang menjadi hak
kami. Walaupun memang tak dipungkiri sebagian yang masih berlebih kami bagikan
lagi kepada orang yang memang dirasa lebih membutuhkan daripada kami. Hanya
seteguk dua teguk dan mungkin satu biji kurma cukup untuk kami. Tak ada yang
lebih ‘mengenyangkan’ dibandingkan momen yang kami lewati sore itu. Coba kau bayangkan..sore itu serasa aku dan mereka berbuka puasa bersama seluruh pengguna
jalan TB. Simatupang. Yaa seluruhnya!. Haha.
Kau paham kan, kebahagiaan itu mudah kau dapat dimana saja, asal hatimu juga memainkan setiap detik dengan senyuman.
Kau paham kan, kebahagiaan itu mudah kau dapat dimana saja, asal hatimu juga memainkan setiap detik dengan senyuman.
***
Bersambung..
No comments:
Post a Comment