Thursday, July 25, 2013

Bidikan Lensa [ PART 2 ]

17 Juli 2013

Keceriaan yang dirindukan akan berulang kembali sore ini. Bukan hanya sebatas keceriaan kami dan mereka melainkan juga akan membangkitkan kembali memori masa kecil kami yang telah jauh kami tinggalkan. Keberuntungan yang mungkin lebih banyak kami dapatkan dibandingkan dengan mereka seharusnya membuat kami sadar dan mengucap syukur kepada Illah semesta alam. Jalan hidup kami dan mereka memang berbeda. Tak usahlah dengan mereka, dengan sesama kami pun jalan ceritanya berbeda.  Hari ini kami banyak belajar dari mereka, adik-adik kami yang polos, yang cerdas, dan semoga menjadi penerus kami suatu hari nanti.

Kami tahu, masa kepemimpinan kami di negeri ini belum dimulai, apalagi dengan masa mereka yang masih sangat jauh untuk memimpin. Tapi tak dipungkiri jika kisah zaman Rasulullah akan terulang dan membawa negeri ini pada zaman kegemilangan dibawah pemimpin-pemimpin muda nan sholeh.

Salah satu sesi di acara hari itu membuatku kembali berpikir akan cita-cita ku kelak.  Keinginan itu terus berubah semenjak aku ingin menjadi dokter dan berakhir hanya pada mainan dokter-dokteran dirumah. Keinginan menjadi dokter gigi dan arsitek berakhir ketika kakiku melangkah ke kelas IPS saat kenaikan kelas XI. Hanya ada satu keinginan yang masih tertanam kuat walaupun jalan kuliah sekarang agak sulit untuk mencapainya. Seorang ekonom. Francis Fukuyama menginspirasiku untuk menjadi seperti apa yang kuinginkan, tapi keyakinan belum sepenuhnya terpancang di tiang kehidupan ini, angin badai masih bisa membuatku menangis, kompas yang rusak masih bisa membuatku tersesat, dan fondasi yang rapuh itu masih bisa digoyahkan kapan saja. Kurasa aku harus tahu apa tujuan akhir kehidupan ku kelak dan mengambil langkah tepat untuk mencapai itu semua. Segera menentukan instrumen yang tepat untuk digunakan dan mengeksekusinya.

Aku teringat akan dua orang anak yang ‘menyentilku’ dengan cita-cita mereka. Pertama, Ridha seorang anak perempuan yang heeem, aku lupa entah kelas 6 SD atau SMP, yang jelas ia bercita-cita ingin menjad guru ngaji. Mungkin cita-citanya akan dipertanyakan oleh orang-orang liberal, ‘seberapa banyak ia menghasilkan uang untukmu?’ atau aku sendiri yang mempertanyakan ,’pertimbangan apa yang ia pikirkan hingga bisa memutuskan untuk menjadi guru ngaji ? aku tak pernah berpikir seperti itu.’

Ia sungguh luar biasa, entahlah tapi aku menyesal tidak banyak menanyakan apa alasan terbesar mengapa ia ingin menjad guru ngaji. Tak banyak anak yang berpikir seperti itu. Dan aku berharap, semoga jika ia besar nanti, ia tak akan pernah merubah cita-cita sederhananya yang bisa menjadikan dunia ini luar biasa jika banyak orang yang bercita-cita seperti Ridha.  

Semoga ia bisa istiqomah dengan pilihannya sekarang. Dan, mudahkanlah jalannya ya Allah, Rabb semesta alam. Jadikan lebih banyak lagi generasi-generasi Qur’ani dan generasi Rabbani yang lahir, insyaa Allah dengan izin mu salah satu nya berasal dari asuhan tangan Ridha kelak.
Anak kedua juga berusia disekitaran SMP, namanya Jundhi. Aku suka dengan namanya. Begitu pun dengan cita-citanya. Ia mengingatkan ku pada ayahku. Ayah terhebat sepanjang masa. Aku sama sekali tak menginginkan Superman, Batman, Iron Man atau sejenisnya untuk hadir dalam kehidupanku, hanya ayah ku saja itu sudah cukup ku dapati perlindungan dari nya. Ayahku ya superhero sepanjang kehidupanku yang kumiliki.

Oke, kembali ke Jundhi. Inilah kata-kata yang ia tulis pada kertas mimpi yang kami berikan waktu itu. Ia menulis satu mimpi hebat untuk masa depannya nanti dan insyaa Allah untuk umat ke depannya, ‘ Nama saya Jundhi. Saya ingin menjadi tentara untuk memajukan negara Islam.’ Ya, entah darimana dan entah negara apa yang ia maksud sini, optimisku adalah Indonesia. Tapi mungkin ia punya maksud lain..atau berharap yang sama dengan apa yang aku harapkan ? atau ia ingin berjuang untuk negara mana pun itu yang jelas ia akan setia berjuang untuk Islam ? .  Entahlah, tapi satu hal dik, doa ku, doa kami menyertaimu. Dan dimana pun kau berada, siapa pun yang akan melihat cita-citamu yang tertempel di kertas mimpi yang akan menghiasi dinding asrama mu kelak, akan setia di amini oleh para teman-teman dan siapa pun yang melihatnya. Selalu semangat, dan semoga Allah menjadikan itu sebuah kenyataan disaat yang tepat. Kebanggaan kami akan selalu meyertaimu. Aaaah, aku tak membayangkan jika suatu saat nanti kami yang menyaksikan dan mengamini cita-citamu sore itu akan terperanjat kagum di masa depan jika sungguh kau akan menjadi tentara yang berjuang untuk negara Islam.



Hari ini ditutup dengan keceriaan lain yang diam-diam diberikan anak-anak yang tinggal di asrama Nusantara. Mereka lucu, entahlah apa itu namanya. Yel-yel atau sekadar lagu penyemangat  mereka ? Yang jelas kami sangat terhibur dengan kepolosan mereka menari dan menyanyi. Aku cinta mereka karena mu ya Allah.
*
Acara hari itu benar-benar diakhiri dengan evaluasi dan doa tanda ucapan syukur kami pada Mu. Berat rasanya langkah kaki ini meninggalkan panti yang sederhana itu.
‘ Ka Grady.. Ka Grady mau jadi presiden nanti. Kalo kaka jadi presiden jadiin aku menterinya ya kak.’ Celetuk salah satu anak sebelum kami benar-benar meninggalkan panti.


Semoga malaikat mengamini dan Allah memberi jawaban atas permintaanmu itu dik. Semoga. 

*

Bersambung..

No comments: