17 Juli 2013
Keceriaan
yang dirindukan akan berulang kembali sore ini. Bukan hanya sebatas keceriaan
kami dan mereka melainkan juga akan membangkitkan kembali memori masa kecil
kami yang telah jauh kami tinggalkan. Keberuntungan yang mungkin lebih banyak
kami dapatkan dibandingkan dengan mereka seharusnya membuat kami sadar dan
mengucap syukur kepada Illah semesta alam. Jalan hidup kami dan mereka memang
berbeda. Tak usahlah dengan mereka, dengan sesama kami pun jalan ceritanya
berbeda. Hari ini kami banyak belajar
dari mereka, adik-adik kami yang polos, yang cerdas, dan semoga menjadi penerus
kami suatu hari nanti.
Kami
tahu, masa kepemimpinan kami di negeri ini belum dimulai, apalagi dengan masa
mereka yang masih sangat jauh untuk memimpin. Tapi tak dipungkiri jika kisah
zaman Rasulullah akan terulang dan membawa negeri ini pada zaman kegemilangan
dibawah pemimpin-pemimpin muda nan sholeh.
Salah
satu sesi di acara hari itu membuatku kembali berpikir akan cita-cita ku
kelak. Keinginan itu terus berubah
semenjak aku ingin menjadi dokter dan berakhir hanya pada mainan
dokter-dokteran dirumah. Keinginan menjadi dokter gigi dan arsitek berakhir ketika
kakiku melangkah ke kelas IPS saat kenaikan kelas XI. Hanya ada satu keinginan
yang masih tertanam kuat walaupun jalan kuliah sekarang agak sulit untuk
mencapainya. Seorang ekonom. Francis Fukuyama menginspirasiku untuk menjadi
seperti apa yang kuinginkan, tapi keyakinan belum sepenuhnya terpancang di
tiang kehidupan ini, angin badai masih bisa membuatku menangis, kompas yang
rusak masih bisa membuatku tersesat, dan fondasi yang rapuh itu masih bisa
digoyahkan kapan saja. Kurasa aku harus tahu apa tujuan akhir kehidupan ku
kelak dan mengambil langkah tepat untuk mencapai itu semua. Segera menentukan
instrumen yang tepat untuk digunakan dan mengeksekusinya.
Aku
teringat akan dua orang anak yang ‘menyentilku’ dengan cita-cita mereka.
Pertama, Ridha seorang anak perempuan yang heeem, aku lupa entah kelas 6 SD
atau SMP, yang jelas ia bercita-cita ingin menjad guru ngaji. Mungkin
cita-citanya akan dipertanyakan oleh orang-orang liberal, ‘seberapa banyak ia menghasilkan uang untukmu?’ atau aku sendiri yang
mempertanyakan ,’pertimbangan apa yang ia pikirkan hingga bisa memutuskan untuk
menjadi guru ngaji ? aku tak pernah
berpikir seperti itu.’
Ia sungguh luar biasa, entahlah tapi aku
menyesal tidak banyak menanyakan apa alasan terbesar mengapa ia ingin menjad
guru ngaji. Tak banyak anak yang berpikir seperti itu. Dan aku berharap, semoga
jika ia besar nanti, ia tak akan pernah merubah cita-cita sederhananya yang
bisa menjadikan dunia ini luar biasa jika banyak orang yang bercita-cita
seperti Ridha.
Semoga ia bisa istiqomah dengan
pilihannya sekarang. Dan, mudahkanlah jalannya ya Allah, Rabb semesta alam.
Jadikan lebih banyak lagi generasi-generasi Qur’ani dan generasi Rabbani yang
lahir, insyaa Allah dengan izin mu salah satu nya berasal dari asuhan tangan
Ridha kelak.
Anak
kedua juga berusia disekitaran SMP, namanya Jundhi. Aku suka dengan namanya.
Begitu pun dengan cita-citanya. Ia mengingatkan ku pada ayahku. Ayah terhebat
sepanjang masa. Aku sama sekali tak menginginkan Superman, Batman, Iron Man
atau sejenisnya untuk hadir dalam kehidupanku, hanya ayah ku saja itu sudah
cukup ku dapati perlindungan dari nya. Ayahku ya superhero sepanjang
kehidupanku yang kumiliki.
Oke,
kembali ke Jundhi. Inilah kata-kata yang ia tulis pada kertas mimpi yang kami
berikan waktu itu. Ia menulis satu mimpi hebat untuk masa depannya nanti dan insyaa Allah untuk umat ke depannya, ‘ Nama
saya Jundhi. Saya ingin menjadi tentara untuk memajukan negara Islam.’
Ya, entah darimana dan entah negara apa yang ia maksud sini, optimisku adalah
Indonesia. Tapi mungkin ia punya maksud lain..atau berharap yang sama dengan
apa yang aku harapkan ? atau ia ingin berjuang untuk negara mana pun itu yang
jelas ia akan setia berjuang untuk Islam ? .
Entahlah, tapi satu hal dik, doa ku, doa kami menyertaimu. Dan dimana
pun kau berada, siapa pun yang akan melihat cita-citamu yang tertempel di
kertas mimpi yang akan menghiasi dinding asrama mu kelak, akan setia di amini
oleh para teman-teman dan siapa pun yang melihatnya. Selalu semangat, dan
semoga Allah menjadikan itu sebuah kenyataan disaat yang tepat. Kebanggaan kami
akan selalu meyertaimu. Aaaah, aku tak membayangkan jika suatu saat nanti kami
yang menyaksikan dan mengamini cita-citamu sore itu akan terperanjat kagum di masa
depan jika sungguh kau akan menjadi tentara yang berjuang untuk negara Islam.
Hari
ini ditutup dengan keceriaan lain yang diam-diam diberikan anak-anak yang
tinggal di asrama Nusantara. Mereka lucu, entahlah apa itu namanya. Yel-yel
atau sekadar lagu penyemangat mereka ?
Yang jelas kami sangat terhibur dengan kepolosan mereka menari dan menyanyi.
Aku cinta mereka karena mu ya Allah.
*
Acara
hari itu benar-benar diakhiri dengan evaluasi dan doa tanda ucapan syukur kami
pada Mu. Berat rasanya langkah kaki ini meninggalkan panti yang sederhana itu.
‘
Ka Grady.. Ka Grady mau jadi presiden nanti. Kalo kaka jadi presiden jadiin aku
menterinya ya kak.’ Celetuk salah satu anak sebelum kami benar-benar
meninggalkan panti.
Semoga
malaikat mengamini dan Allah memberi jawaban atas permintaanmu itu dik. Semoga.
*
Bersambung..

No comments:
Post a Comment