Sunday, July 28, 2013

Give Me a Chance [ PART 1 ]

-27 Juli 2013-

Learn and know how then you will find the reason.

“Saya pernah menduduki jabatan dari eselon IV sampai I. Tapi di antara semua pekerjaan itu, saya paling senang menjadi guru, karena dengan mengajar kalian yang muda-muda begini, saya melihat masa depan”
(Prof.Anhar Gonggong, akademisi dan sejarawan)

Kaki ku kembali menyusuri jalanan yang tak rata itu. Masuk ke sebuah komplek sekolah yang beberapa waktu terakhir ini sempat meramaikan pemberitaan media massa. Mungkin ada, hampir dua atau tiga tahun yang lalu sejak pertama kalinya aku menginjakkan kaki di sana, saat semuanya baru saja dimulai dan dibangun tetapi sekarang semua sudah berubah. Lebih baik, lebih tertata, lebih banyak juga yang menuntut ilmu.

Kedatanganku kesini bukan untuk wawancara lagi seperti dulu, tapi untuk mengajar. Entah malaikat apa yang membisikkan seruan kebaikan ini untuk ku entah mengapa pula aku menuruti seruan itu. Yang jelas niat itu sudah ada semenjak beberapa hari yang lalu. Ya, hanya timbul sejak beberapa hari yang lalu. Kemarin-kemarin masih saja ada ketidakyakinan dan kepesimisan untuk mulai mencoba mengajar anak-anak calon penerus bangsa itu.

Jantung ini berdegup kencang. Membayangkan sambutan apa yang akan diberikan pertama kali untuk ku oleh mereka. Jujur saja, aku masih agak kaku untuk menghadapi tingkah adik-adik kecil itu. Huft.. sudahlah, aku terlanjur datang juga. Terlanjur pula jika kaki ini harus melangkah lagi untuk pulang.

*
Kakiku baru saja melangkah dua langkah dari arah pintu, mengikuti langkah dua kawanku yang memang sudah pernah mengajar disini sebelumnya, Ammar dan David. Kau tau apa yang terjadi ? Aku tak percaya ini. Beberapa dari mereka langsung menghambur ke arah ku, mencium tangan dan dengan polosnya menanyakan nama ku. ‘ Nama kakak siapa ?’ kata salah seorang gadis kecil berjilbab. ‘Icha’ aku menjawab. ‘Siapa kak siapa kak ?’ seru yang lainnya sambil mendekatiku. Sungguh menggembirakan. Mereka terlihat bersemangat dan sangat welcome terhadapku. Sambutan sederhana, ramah, dan membuatku betah paling tidak untuk hari ini.

Tak lama, kelas pun dimulai dengan suasana yang masih bising, belum rapi, anak-anak pun masih banyak yang berlarian, dan mengobrol. Terlihat Ammar dan David pun masih kelimpungan mengajak anak-anak itu untuk merapikan diri mereka. Sabtu itu, ada empat pengajar yang akan mengajar di kelas 4. Ammar, David, aku dan Ka Rida. Empat orang dalam satu kelas ?? Ya! Aku serius. Tak usah terkejut. Kau akan tau bahwa empat orang itu jumlah yang menurutku ideal untuk menangani kelas itu, tunggulah sampai saatnya kau akan memahami. 

*

bersambung.. 

No comments: