Learn
and know how then you will find the reason.
“Saya
pernah menduduki jabatan dari eselon IV sampai I. Tapi di antara semua
pekerjaan itu, saya paling senang menjadi guru, karena dengan mengajar kalian
yang muda-muda begini, saya melihat masa depan”
(Prof.Anhar
Gonggong, akademisi dan sejarawan)
Kaki ku
kembali menyusuri jalanan yang tak rata itu. Masuk ke sebuah komplek sekolah
yang beberapa waktu terakhir ini sempat meramaikan pemberitaan media massa. Mungkin
ada, hampir dua atau tiga tahun yang lalu sejak pertama kalinya aku
menginjakkan kaki di sana, saat semuanya baru saja dimulai dan dibangun tetapi
sekarang semua sudah berubah. Lebih baik, lebih tertata, lebih banyak juga yang
menuntut ilmu.
Kedatanganku
kesini bukan untuk wawancara lagi seperti dulu, tapi untuk mengajar. Entah
malaikat apa yang membisikkan seruan kebaikan ini untuk ku entah mengapa pula
aku menuruti seruan itu. Yang jelas niat itu sudah ada semenjak beberapa hari
yang lalu. Ya, hanya timbul sejak beberapa hari yang lalu. Kemarin-kemarin
masih saja ada ketidakyakinan dan kepesimisan untuk mulai mencoba mengajar
anak-anak calon penerus bangsa itu.
Jantung
ini berdegup kencang. Membayangkan sambutan apa yang akan diberikan pertama
kali untuk ku oleh mereka. Jujur saja, aku masih agak kaku untuk menghadapi
tingkah adik-adik kecil itu. Huft.. sudahlah, aku terlanjur datang juga.
Terlanjur pula jika kaki ini harus melangkah lagi untuk pulang.
*
Kakiku
baru saja melangkah dua langkah dari arah pintu, mengikuti langkah dua kawanku
yang memang sudah pernah mengajar disini sebelumnya, Ammar dan David. Kau tau
apa yang terjadi ? Aku tak percaya ini. Beberapa dari mereka langsung
menghambur ke arah ku, mencium tangan dan dengan polosnya menanyakan nama ku. ‘
Nama kakak siapa ?’ kata salah
seorang gadis kecil berjilbab. ‘Icha’
aku menjawab. ‘Siapa kak siapa kak ?’
seru yang lainnya sambil mendekatiku. Sungguh menggembirakan. Mereka terlihat
bersemangat dan sangat welcome
terhadapku. Sambutan sederhana, ramah, dan membuatku betah paling tidak untuk
hari ini.
Tak lama,
kelas pun dimulai dengan suasana yang masih bising, belum rapi, anak-anak pun
masih banyak yang berlarian, dan mengobrol. Terlihat Ammar dan David pun masih
kelimpungan mengajak anak-anak itu untuk merapikan diri mereka. Sabtu itu, ada
empat pengajar yang akan mengajar di kelas 4. Ammar, David, aku dan Ka Rida.
Empat orang dalam satu kelas ?? Ya! Aku serius. Tak usah terkejut. Kau akan tau
bahwa empat orang itu jumlah yang menurutku ideal untuk menangani kelas itu,
tunggulah sampai saatnya kau akan memahami.
*
bersambung..
No comments:
Post a Comment