Tuesday, July 9, 2013

Lubang Cahaya

-catatan harian yang terlalu sederhana-
Amalita Frantrini N, 5 Juli 2013.

Pastikan sinar itu merambat lurus ke qolbu

Liburan.

Kata itu selalu ku rindukan setelah melewati empat bulan yang padat dan akan selalu padat disetiap term kapan pun dalam perkuliahan. Tapi kenyataan yang pasti datang itu tidak bisa ku rasakan seutuhnya saat ini. Rutinitas selayaknya kehidupan perkuliahan biasa,  menjadi bagian yang selalu membosankan dan menjadi sebuah badai kecil ditengah kenikmatan surga liburan yang seharusnya ku rasakan.

Banyak sudah kawan ku yang pulang dan melepas rindu dengan keluarga di kampung halaman, membawa sejuta cerita yang tak akan pernah habis untuk diceritakan walaupun mungkin ayah, bunda, abang, adik atau siapa pun sanak keluarga mereka disana tidak memahami dan mengerti seutuhnya hal yang diceritakan. Ya, tapi paling tidak kau merasakan sebuah kelegaan dengan melepas sejenak beban rindu pada keluargamu. Lalu bagaimana dengan ku ? Aaaah.. sudahlah, aku rasa kau sudah tau apa yang akan menjadi jawabanku.

Tapi kemudian, aku selalu teringat akan sebuah kalimat yang menurutku kalimat penyemangat terindah dari Illah semesta alam, ‘ Dan katakanlah : bekerjalah kamu, maka Allah dan RasulNya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu.. ‘. Ya, aku berharap semoga apa yang menjadi kelelahanku di dunia dengan segala macam hal yang ku kerjakan dapat dilihat oleh Allah, para Rasul, dan orang mukmin serta mengantarkanku ke JannahNya kelak.
***
Prolog diatas ku rasa cukup mengantarkan kalian ke depan gerbang cerita sebenarnya hari ini. Ada hubungannya dengan sweet home yang jelas. Rumah kecil dilantai dua Masjid UI itu. Bukan permasalahan rumah tangga keluarga ku yang selalu sweet itu, tapi sebuah kejadian luar biasa yang baru pertama kali aku saksikan. Entahlah, mungkin untuk sebagian orang bukan sesuatu yang luar biasa, tapi,.. . Oke untuk sekian kalinya aku kehilangan kata-kata untuk menjelaskannya, ku rasa kau bisa menemukan jawabannya di akhir cerita ini ( jika memang kau tidak kehilangan kata-kata juga untuk menggambarkannya ).

Siang ini kakiku berjalan menapaki jalan becek kampus yang segar setelah diguyur hujan. Hatiku gelap., lebih gelap daripada awan mendung yang akan membawa hujan siang ini. Pikiranku melayang tertuju pada rumah kecil di lantai dua masjid itu, sambil sibuk menunduk melihat layar telepon genggam merah kesayangan. Bukan hanya pikiranku yang tertuju pada rumah kecil itu, tapi juga pada rumah besar yang menaunginya. Membayangkan akan ada berapa banyak lelaki yang bersilaturahmi disana setelah siang ini bertemu denganMu. Entahlah, mungkin waktunya kurang tepat untuk main ke rumah kecil itu pada jam-jam seperti ini, tapi aku tidak punya waktu lain, agendaku cukup padat hari ini.

Ya, benar saja, walau pun sudah banyak dari lelaki itu yang keluar dari rumah besar Mu di kampus ku, kerumunan lelaki lain masih bertebaran di sudut-sudut lain, ada yang lelah hingga tertidur, ada yang makan di depan pagar rumah, sibuk dengan laptop dan sebagainya. Tetapi, yang cukup menarik perhatian ku adalah aula ruang tamu rumahMu masih dipenuhi beberapa tamu lelaki, dengan suara seorang pemuka agama yang cukup keras dan jelas sehingga aku menganggap undanganMu terhadap para saudara-saudara ku itu belum selesai. Keraguanku itu terjawab ketika aku melihat beberapa saudariku melangkahkan kaki mereka ke lantai dua rumahMu yang asri itu untuk bertemu denganMu.

Dengan mantap aku pun melangkahkan kaki ku ke lantai dua rumahMu menuju rumah kecil bahagia itu. Dan dari atas pun aku sudah dapat melihat dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi di aula besar itu. Ada seorang saudaraku yang akan memantapkan langkahnya menuju kegemilangan masa depan nya, Insya Allah, ya dia akan berhijrah. Cukup banyak tamu lelakiMu yang mengelilinginya, menanti saat ia mengucap dua kalimat syahadat, menanti kedatangan saudara baru yang pulang dari daerah perantauan yang cukup berat dan hampir tersesat lebih jauh. Gema penyambutan itu dapat ku rasakan bahkan ketika aku memasuki rumah kecil itu. Ingin rasanya diri ini loncat dari lantai dua rumahMu untuk menyaksikan lebih dekat lagi momen-momen itu, tapi lagi-lagi waktu mengejarku untuk mempercepat urusanku di rumahMu itu. Bergetar rasanya hati ini ketika ia sudah resmi kembali menjadi saudara kami yang Kau persatukan melalui din yang paling bercahaya dan paling sempurna.

Kejadian hari ini membawaku pada sebuah perumpamaan yang mungkin jika aku tak menjelaskannya dengan detail dan jelas kau tak akan mengerti. Ya, maklumi saja lah, ini memang salah satu kekuranganku. Aku mendapat sebuah perumpamaan yang cukup aneh didengar karena memang perumpamaan ini bukan dibuat oleh seorang pujangga terkenal.

Hidup ini membutuhkan cahaya, untuk menerangi gelapnya malam, untuk membantu mu melihat benda dan orang- orang tersayang disekelilingmu, bahkan untuk melihat sebuah pesan masuk di telepon selularmu, kau butuh cahaya. Lebih jauh dari itu cahaya itu merupakan alat bantu yang kau butuhkan untuk memilih jalan yang benar dalam hidup ini, dan cahaya paling terang yang kau butuhkan dalam hidup ini adalah din. Dan ku rasa, kau tau cahaya din apa yang paling terang untuk membantumu menelusuri kehidupan ini. Yang terkadang jadi permasalahan adalah, kau tidak bisa menemukan dimana cahaya itu berada karena kau tak tau dimana tempatnya atau kau tidak mau menggali lubang cahaya itu sendiri. Aku percaya, lubang cahaya itu tersedia di setiap langkah kaki mu saat menapaki jalan kehidupan ini. Yang kau butuh dari awal adalah persiapan yang matang, mental dan peralatan lengkap untuk menelusuri dan menggali lubang cahaya itu. Tidak perlu menunggu tikungan tajam atau pohon besar yang siap menimpamu baru kau menggali lubang itu, tapi yakinkan dirimu sendiri bahwa kau ingin menemukan lubang cahaya itu.  Dan percayalah, ketika kau sudah menemukan lubang itu, cahayaNya akan terpancar terang sehingga tidak ada satu titik pun keraguan kau pada yang memiliki cahaya itu untuk menunjukkan sebuah jalan terbaik untuk dirimu.

Ya, aku percaya, prosesi singkat pengucapan dua kalimat syahadat yang telah dilalui saudara ku siang tadi itu adalah hasil dari proses panjang pencarian dan penggalian lubang cahaya itu hingga sampai pada satu jalan dimana ia benar-benar menemukan jalan yang sebenarnya dari cahaya itu.

Ahlan Saudaraku..

Bersyukur atas jalan terbaik yang dianugerahkan pemilik alam semesta ini padamu. Dan aku, masih berharap lubang cahaya itu ditemukan dan digali salah seorang yang sangat kucintai dalam hidupku. Semoga.
***






No comments: