Amalita Frantrini N, 5 Juli 2013.
Pastikan
sinar itu merambat lurus ke qolbu
Liburan.
Kata itu
selalu ku rindukan setelah melewati empat bulan yang padat dan akan selalu
padat disetiap term kapan pun dalam perkuliahan. Tapi kenyataan yang pasti
datang itu tidak bisa ku rasakan seutuhnya saat ini. Rutinitas selayaknya
kehidupan perkuliahan biasa, menjadi
bagian yang selalu membosankan dan menjadi sebuah badai kecil ditengah
kenikmatan surga liburan yang seharusnya ku rasakan.
Banyak sudah
kawan ku yang pulang dan melepas rindu dengan keluarga di kampung halaman,
membawa sejuta cerita yang tak akan pernah habis untuk diceritakan walaupun
mungkin ayah, bunda, abang, adik atau siapa pun sanak keluarga mereka disana
tidak memahami dan mengerti seutuhnya hal yang diceritakan. Ya, tapi paling
tidak kau merasakan sebuah kelegaan dengan melepas sejenak beban rindu pada
keluargamu. Lalu bagaimana dengan ku ? Aaaah.. sudahlah, aku rasa kau sudah tau
apa yang akan menjadi jawabanku.
Tapi kemudian, aku selalu teringat akan sebuah
kalimat yang menurutku kalimat penyemangat terindah dari Illah semesta alam, ‘
Dan katakanlah : bekerjalah kamu, maka
Allah dan RasulNya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu.. ‘.
Ya, aku berharap semoga apa yang menjadi kelelahanku di dunia dengan segala
macam hal yang ku kerjakan dapat dilihat oleh Allah, para Rasul, dan orang
mukmin serta mengantarkanku ke JannahNya kelak.
***
Prolog
diatas ku rasa cukup mengantarkan kalian ke depan gerbang cerita sebenarnya
hari ini. Ada hubungannya dengan sweet home yang jelas. Rumah kecil dilantai
dua Masjid UI itu. Bukan permasalahan rumah tangga keluarga ku yang selalu
sweet itu, tapi sebuah kejadian luar biasa yang baru pertama kali aku saksikan.
Entahlah, mungkin untuk sebagian orang bukan sesuatu yang luar biasa, tapi,.. .
Oke untuk sekian kalinya aku kehilangan kata-kata untuk menjelaskannya, ku rasa
kau bisa menemukan jawabannya di akhir cerita ini ( jika memang kau tidak
kehilangan kata-kata juga untuk menggambarkannya ).
Siang ini
kakiku berjalan menapaki jalan becek kampus yang segar setelah diguyur hujan. Hatiku
gelap., lebih gelap daripada awan mendung yang akan membawa hujan siang ini. Pikiranku
melayang tertuju pada rumah kecil di lantai dua masjid itu, sambil sibuk
menunduk melihat layar telepon genggam merah kesayangan. Bukan hanya pikiranku
yang tertuju pada rumah kecil itu, tapi juga pada rumah besar yang menaunginya.
Membayangkan akan ada berapa banyak lelaki yang bersilaturahmi disana setelah
siang ini bertemu denganMu. Entahlah, mungkin waktunya kurang tepat untuk main
ke rumah kecil itu pada jam-jam seperti ini, tapi aku tidak punya waktu lain,
agendaku cukup padat hari ini.
Ya, benar
saja, walau pun sudah banyak dari lelaki itu yang keluar dari rumah besar Mu di
kampus ku, kerumunan lelaki lain masih bertebaran di sudut-sudut lain, ada yang
lelah hingga tertidur, ada yang makan di depan pagar rumah, sibuk dengan laptop
dan sebagainya. Tetapi, yang cukup menarik perhatian ku adalah aula ruang tamu
rumahMu masih dipenuhi beberapa tamu lelaki, dengan suara seorang pemuka agama
yang cukup keras dan jelas sehingga aku menganggap undanganMu terhadap para
saudara-saudara ku itu belum selesai. Keraguanku itu terjawab ketika aku melihat
beberapa saudariku melangkahkan kaki mereka ke lantai dua rumahMu yang asri itu
untuk bertemu denganMu.
Dengan
mantap aku pun melangkahkan kaki ku ke lantai dua rumahMu menuju rumah kecil
bahagia itu. Dan dari atas pun aku sudah dapat melihat dengan jelas apa yang
sebenarnya terjadi di aula besar itu. Ada seorang saudaraku yang akan
memantapkan langkahnya menuju kegemilangan masa depan nya, Insya Allah, ya dia
akan berhijrah. Cukup banyak tamu lelakiMu yang mengelilinginya, menanti saat
ia mengucap dua kalimat syahadat, menanti kedatangan saudara baru yang pulang
dari daerah perantauan yang cukup berat dan hampir tersesat lebih jauh. Gema
penyambutan itu dapat ku rasakan bahkan ketika aku memasuki rumah kecil itu.
Ingin rasanya diri ini loncat dari lantai dua rumahMu untuk menyaksikan lebih
dekat lagi momen-momen itu, tapi lagi-lagi waktu mengejarku untuk mempercepat
urusanku di rumahMu itu. Bergetar rasanya hati ini ketika ia sudah resmi
kembali menjadi saudara kami yang Kau persatukan melalui din yang paling
bercahaya dan paling sempurna.
Kejadian
hari ini membawaku pada sebuah perumpamaan yang mungkin jika aku tak
menjelaskannya dengan detail dan jelas kau tak akan mengerti. Ya, maklumi saja
lah, ini memang salah satu kekuranganku. Aku mendapat sebuah perumpamaan yang
cukup aneh didengar karena memang perumpamaan ini bukan dibuat oleh seorang
pujangga terkenal.
Hidup ini
membutuhkan cahaya, untuk menerangi gelapnya malam, untuk membantu mu melihat
benda dan orang- orang tersayang disekelilingmu, bahkan untuk melihat sebuah
pesan masuk di telepon selularmu, kau butuh cahaya. Lebih jauh dari itu cahaya
itu merupakan alat bantu yang kau butuhkan untuk memilih jalan yang benar dalam
hidup ini, dan cahaya paling terang yang kau butuhkan dalam hidup ini adalah
din. Dan ku rasa, kau tau cahaya din apa yang paling terang untuk membantumu
menelusuri kehidupan ini. Yang terkadang jadi permasalahan adalah, kau tidak
bisa menemukan dimana cahaya itu berada karena kau tak tau dimana tempatnya
atau kau tidak mau menggali lubang cahaya itu sendiri. Aku percaya, lubang
cahaya itu tersedia di setiap langkah kaki mu saat menapaki jalan kehidupan
ini. Yang kau butuh dari awal adalah persiapan yang matang, mental dan
peralatan lengkap untuk menelusuri dan menggali lubang cahaya itu. Tidak perlu
menunggu tikungan tajam atau pohon besar yang siap menimpamu baru kau menggali
lubang itu, tapi yakinkan dirimu sendiri bahwa kau ingin menemukan lubang
cahaya itu. Dan percayalah, ketika kau
sudah menemukan lubang itu, cahayaNya akan terpancar terang sehingga tidak ada
satu titik pun keraguan kau pada yang memiliki cahaya itu untuk menunjukkan
sebuah jalan terbaik untuk dirimu.
Ya, aku
percaya, prosesi singkat pengucapan dua kalimat syahadat yang telah dilalui
saudara ku siang tadi itu adalah hasil dari proses panjang pencarian dan
penggalian lubang cahaya itu hingga sampai pada satu jalan dimana ia
benar-benar menemukan jalan yang sebenarnya dari cahaya itu.
Ahlan Saudaraku..
Bersyukur
atas jalan terbaik yang dianugerahkan pemilik alam semesta ini padamu. Dan aku,
masih berharap lubang cahaya itu ditemukan dan digali salah seorang yang sangat
kucintai dalam hidupku. Semoga.
***
No comments:
Post a Comment