Tuesday, July 30, 2013

Satu Malam di Stasiun

Kau tak akan pernah tahu kejutan apa yang Ia siapkan untukmu. Itu semua sudah Ia perhitungkan, bahkan kejutan di malam itu…

Sapaan itu tak asing lagi ditelinga. Orang yang menyapa pun tak asing lagi untuk ku. Seorang lelaki yang ku kenal. Seorang teman. Kami saling mengenal. Tapi, entah apa yang terjadi, aku hanya dapat menatap mata nya. Lidah ini kelu untuk digerakkan, bahkan untuk menyebut satu kata nama nya. Tapi, ia terus tersenyum pada ku sambil berlalu, mungkin tadinya berharap aku membalas sapaannya tapi yang terjadi, aku tak membalasnya. Hanya setitik senyum yang kusadari tertuju padanya untuk sekadar membalas sapaannya. Tanpa sepatah kata pun. Aih, maafkan aku.

Ku pandangi ia yang masih terus berjalan ke ujung peron hingga ia hilang ditelan kegelapan peron stasiun malam itu. ‘ Maafkan aku. Aku tak bermaksud mengabaikanmu.’
*
Huh, kekesalan ku hari ini pada seseorang menghancurkan segalanya. Bara api ini membakar semua. Bahkan sesuatu yang tak ku rencanakan untuk dibakar, turut ludes tak bersisa. Hanya sebuah pandangan kekecewaan yang masih ada dalam sorot mata ini.

Masalahnya sepele, ditinggal seorang kawan untuk pulang bareng. Hari ini ia membawa mobil. Kau tau kan, pikiran mahasiswa ? Ingin irit jika sesuatu memungkinkan ? Niatnya pengen nebeng tapi apa daya ia lupa dan meninggalkan ku di kampus. Sebenarnya, ada beberapa hikmah yang bisa ku ambil dibalik kelupaannya itu. Pertama, aku jadi shalat tarawih di kampus ( ya, walaupun pada awalnya ketika shalat Isya berantakan gara-gara ngikutin imam yang ternyata udah shalat tarawih ) dan yang kedua, aku bertemu seseorang yang menyentilku karena sikap ku yang berlebihan ini.

Jujur saja, aku masih kesal ketika menyadari aku harus pulang naik kereta malam itu. Memang, perjalanan hanya memakan waktu tak lebih dari setengah jam, tapi.. tapi.. ah kekesalan itu terlalu ku makan dan ku resapi di hati jadilah semua yang ditubuhku menegang. Huft. Sabar.
*
Tiket elektronik itu sudah kupegang. Aku duduk di peron ujung tak jauh dari loket. Ya, aku akan naik di gerbong khusus wanita. Awalnya, ingin cuek dengan keadaan sekitar. Telepon selular sudah ditangan, membuka kembali peti masuk pesan, melihat sebuah pesan maaf dari kawan yang meninggalkan ku tadi. Tak ingin kubalas rasanya. Ya… memang tak ku balas. Aku beralih membuka twitter di tengah-tengah kesunyian malam itu.

Baru saja aku duduk di tempat duduk besi yang agak miring itu, mata ini tak sengaja menangkap sebuah momen saat seorang pemuda memberi sebuah roti pada seorang bapak tua penyapu stasiun, ‘ Ini pak, buat sahur nanti.’ Ucapnya sambil berlalu. ‘ Makasi mas. Alhamdulillah..’. Aku hanya tersenyum, tak ingin memperhatikan lebih lagi. Atau singkatnya tak ingin terlibat sebuah momen yang mungkin akan membuatku tak bisa berkata-kata dengan bapak itu. Entah apa itu, tapi yang jelas aku tak mau. Aku masih kesal.
*
Hal yang tak ku inginkan terjadi. Bapak tua itu berjalan menghampiriku dan menyapaku dengan ramah, seolah kami sudah saling mengenal sebelumnya , ‘ Tumben teh baru pulang.’ . Aku tersenyum. ‘ Iya pak.’  Entahlah, ku rasa bapak itu belum pernah mengenal ku sebelumnya begitu pun dengan ku. Tapi sapaan itu begitu ramah. Ia kemudian duduk di sampingku, bercerita sedikit tentang pemberian pemuda tadi untuknya dan bercerita tentang hari itu yang ia lewati pada ku. Aku menanggapi dan mencoba mengimbangi sebisa ku. Dan aku tersadar, aku tak seburuk yang ku bayangkan. Aku bisa menanggapi ceritanya dengan baik.

Sampai pada satu pertanyaan , ‘Rumah bapak dimana ?’.
‘ Di Bojong teh.’ Jawabnya sambil memandang peron seberang

‘ Ooo ya, kalo pulang naek kereta dong Pak?’ tanyaku lebih lanjut.

‘ Engga, bapak naik angkot. Rumah bapak ditengah-tengah Bojong. Jadi dari stasiun juga masih naik angkot lagi. Jauh lah lumayan.’

Aku tersenyum. ‘ Nanti pulang jam berapa pak ?’

‘ Gak pulang teh, bapak mah disini aja juga gak apa-apa. Udah biasa gak pulang tiap hari teh.. . Jauh’
*
Oh, Tuhan, sebuah ‘kejutan’
Aku yang masih bisa pulang setiap hari saja mengeluh cuma gara-gara hari  ini seorang kawan ku lupa untuk mengangkutku turut bersama mobilnya ? Menegangkan semua urat syaraf ku hanya untuk sesuatu yang sepele. Mengabaikan permintaan maafnya berkali-kali. Saat ia meneleponku, mengirimi sms dan bahkan memention di twitter. Hah, aku tak habis pikir dengan diriku sendiri.

Maafkan aku..
*
Kata-kata itu, mungkin tak berarti untukmu. Tidak jika kau bisa mengambil pelajaran dan membaca tanda-tanda yang Ia kirim pada mu untuk sebuah kejutan. Ya, tanda dan pelajaran itu akan selalu ada dalam setiap langkahmu. Maka dari itu, persiapkanlah selalu dirimu dengan kejutan yang mungkin Ia akan berikan padamu. Disaat yang tak terduga, dari orang yang tak terduga tapi diwaktu yang tepat. SkenarioNya tak akan pernah ada yang tahu akan berjalan seperti apa. Tapi tak akan pernah salah, dan terulang untuk yang kedua kalinya. Yakinkan saja itu yang terbaik dan terindah untukmu. Tersenyumlah atas kejutanNya malam ini.

***

No comments: