Yang tidak pernah diajarkan..
Anak kecil itu selalu mengejutkan.. kau tak akan pernah tahu apa
yang dipikirkannya dan tidak akan pernah berhenti terkejut dengan apa yang akan
mereka katakan.
Satu potongan cerita yang lucu di awal kelas..
Giliranku
memperkenalkan diri, ‘Halo nama kakak Icha’ . Tiba-tiba saja seorang anak
berbaju kuning memprovokasi untuk mengumandangkan seruan yang tidak asing
lagi.. ‘Caca marica he hey ..’ .
Oke, terima kasih dik atas sambutan mu untuk
ku.
Satu potongan lagi di pertengahan..
Ammar
mengajari mereka menggambar. Dari mulai nenek sihir, cewek berjilbab, sampai
kereta api. Gambar yang pernah ia ajarkan pada anak-anak di panti waktu itu. Satu
orang anak perempuan kemudian nyeletuk, diikuti dengan beberapa yang lain
ketika ia memperhatikan gambar cewek berjilbab itu , ’Ini kak icha ya ? Mirip sama kakak’ . Aku hanya tersipu. David dan
Ka Rida tersenyum. Haaaah , mar bisakah kau ‘memperkecil’ gambar mu itu ?.
Satu obrolan tentang cita-cita..
‘Kak, kak,
ini presiden pertama kita ya kak ?’ Jari itu menunjuk satu foto dipaling pojok
poster pahlawan dan tokoh nasional.
‘ Iya dik,
hebat kan ?. Kamu mau jadi presiden gak nanti ?’ tanyaku pada anak yang ( jika
aku tak salah ) bernama Krisna.
‘ Engga. ‘
‘ Terus
mau jadi apa nanti kalo udah gede ?’
Agak lama
aku menunggu jawaban dari nya.
‘Mau
jadi.. jadi..’
‘ Jadi apa
?’ Aku dengan sabar menunggunya mengeluarkan kata-kata selanjutnya.
‘ Jadi
yang punya agen bus kak.’
Wow, pengusaha. Keren. Hebat. Ujarku dalam hati
‘ Makanya,
yang rajin ya belajarnya.’
Kau tau,
dengan siapa aku berbicara ? dengan seorang anak yang diawal kelas mengacau
karena terus menerus menyoraki teman perempuannya hingga menangis. Entahlah,
tapi air mata ini serasa tak bisa tertahan untuk mengalir, ia begitu berbeda. Begitu
lembut ketika berbicara denganku. Aku dapat menangkap sorot matanya, dan kutemukan
sesuatu tersembunyi dibalik itu yang belum ku pahami.
Satu potongan tak terduga..
Ditanganku
ada sebuah poster yang seharusnya digantung di dinding kelas itu, tapi
digunakan mereka untuk menjaili sesama teman mereka. Aku tak habis pikir. Makanya
poster itu aku amankan. Tiba-tiba seorang anak laki-laki berseragam merebutnya
dari ku. Aku menariknya lagi,
‘ Enggak
dik, jangan dipakai buat ngisengin.’
‘ Enggak
kak!’ ujarnya emosi. ‘Mau digantung, ini kan harusnya digantung.’ Keningnya
berkerut. Ia merebutnya dari ku.
Aku hanya
memperhatikannya saja, melepas poster itu untuknya. Ya.. dia benar-benar
menggantungnya ditempat yang seharusnya.
Satu potongan lagi hampir di akhir, Sssst… hanya aku dan Natal
yang tahu.
Nama anak
itu sama dengan deretan kata ketiga di namaku. Hanya ia yang tak memakai jilbab
dikelas itu. Pakaiannya seragam merah putih sebagaimana ia berangkat ke sekolah pada umumnya. Satu waktu disela-sela aku mengajari temannya matematika, ia meminta
ku untuk meletakkan tangan ku dengan posisi atas bawah seperti orang meminta..
ia meminta ku untuk menyilangkannya dua belas kali. Aku menurutinya saja, dan
ia pun menghitungnya untukku. Kemudian ia menanyakan nama seseorang yang sedang
sibuk di depan papan tulis. Aku menjawabnya.
Ia memegang tanganku dan melakukan ‘ritual’ yang hanya ia yang memahaminya.
Tidak menemukan sebuah jawaban, ia memintaku menyilangkannya sepuluh kali lagi
dan ia kembali melakukan ‘ritual’ itu. Kemudian, ia memberi tahuku, ’Kakak cocok kak sama abang itu.’ Aku menghela napas. Hufft.. terima kasih dik
atas.. entahlah atas apa. Yang jelas kau mengingatkan ku atas permainan jodoh
masa kecil itu yang sekarang makin bervariasi.
Percaya
kan ? Kau tak akan pernah menduga celetukan apa yang mereka lontarkan pada mu..
Keluguan itu, kecerdasan alami itu, keingintahuan itu.. akan semakin terkikis
seiring bertambahnya umur dan proses pendewasaan,
jadi.. rindukanlah.
Jika kau
tak pernah ingat dengan apa yang kau katakan pada orang tua mu sewaktu kecil,
cobalah ingat celetukan celetukan mereka yang mungkin bisa membuatmu tersenyum
disaat-saat kau butuh akan sebuah senyuman..
Kau pasti merindukannya. Ya, suatu waktu, pasti kau akan merindukannya. Bagaimana
menurutmu ?
***
-SELESAI-
-SELESAI-
No comments:
Post a Comment