Sunday, July 28, 2013

Yang Tidak Pernah Diajarkan [ PART 4 : SELESAI ]

Yang tidak pernah diajarkan..

Anak kecil itu selalu mengejutkan.. kau tak akan pernah tahu apa yang dipikirkannya dan tidak akan pernah berhenti terkejut dengan apa yang akan mereka katakan.

Satu potongan cerita yang lucu di awal kelas..
Giliranku memperkenalkan diri, ‘Halo nama kakak Icha’ . Tiba-tiba saja seorang anak berbaju kuning memprovokasi untuk mengumandangkan seruan yang tidak asing lagi.. ‘Caca marica he hey ..’ . 
Oke, terima kasih dik atas sambutan mu untuk ku.

Satu potongan lagi di pertengahan..
Ammar mengajari mereka menggambar. Dari mulai nenek sihir, cewek berjilbab, sampai kereta api. Gambar yang pernah ia ajarkan pada anak-anak di panti waktu itu. Satu orang anak perempuan kemudian nyeletuk, diikuti dengan beberapa yang lain ketika ia memperhatikan gambar cewek berjilbab itu , ’Ini kak icha ya ? Mirip sama kakak’ . Aku hanya tersipu. David dan Ka Rida tersenyum. Haaaah , mar bisakah kau ‘memperkecil’ gambar mu itu ?.

Satu obrolan tentang cita-cita..
‘Kak, kak, ini presiden pertama kita ya kak ?’ Jari itu menunjuk satu foto dipaling pojok poster pahlawan dan tokoh nasional.
‘ Iya dik, hebat kan ?. Kamu mau jadi presiden gak nanti ?’ tanyaku pada anak yang ( jika aku tak salah ) bernama Krisna.
‘ Engga. ‘
‘ Terus mau jadi apa nanti kalo udah gede ?’
Agak lama aku menunggu jawaban dari nya.
‘Mau jadi.. jadi..’
‘ Jadi apa ?’ Aku dengan sabar menunggunya mengeluarkan kata-kata selanjutnya.
‘ Jadi yang punya agen bus kak.’
Wow, pengusaha. Keren. Hebat. Ujarku dalam hati
‘ Makanya, yang rajin ya belajarnya.’

Kau tau, dengan siapa aku berbicara ? dengan seorang anak yang diawal kelas mengacau karena terus menerus menyoraki teman perempuannya hingga menangis. Entahlah, tapi air mata ini serasa tak bisa tertahan untuk mengalir, ia begitu berbeda. Begitu lembut ketika berbicara denganku. Aku dapat menangkap sorot matanya, dan kutemukan sesuatu tersembunyi dibalik itu yang belum ku pahami.

Satu potongan tak terduga..
Ditanganku ada sebuah poster yang seharusnya digantung di dinding kelas itu, tapi digunakan mereka untuk menjaili sesama teman mereka. Aku tak habis pikir. Makanya poster itu aku amankan. Tiba-tiba seorang anak laki-laki berseragam merebutnya dari ku. Aku menariknya lagi,
‘ Enggak dik, jangan dipakai buat ngisengin.’
‘ Enggak kak!’ ujarnya emosi. ‘Mau digantung, ini kan harusnya digantung.’ Keningnya berkerut. Ia merebutnya dari ku.
Aku hanya memperhatikannya saja, melepas poster itu untuknya. Ya.. dia benar-benar menggantungnya ditempat yang seharusnya.

Satu potongan lagi hampir di akhir, Sssst… hanya aku dan Natal yang tahu.
Nama anak itu sama dengan deretan kata ketiga di namaku. Hanya ia yang tak memakai jilbab dikelas itu. Pakaiannya seragam merah putih sebagaimana ia berangkat ke sekolah pada umumnya. Satu waktu disela-sela aku mengajari temannya matematika, ia meminta ku untuk meletakkan tangan ku dengan posisi atas bawah seperti orang meminta.. ia meminta ku untuk menyilangkannya dua belas kali. Aku menurutinya saja, dan ia pun menghitungnya untukku. Kemudian ia menanyakan nama seseorang yang sedang sibuk di depan papan tulis.  Aku menjawabnya. Ia memegang tanganku dan melakukan ‘ritual’ yang hanya ia yang memahaminya. Tidak menemukan sebuah jawaban, ia memintaku menyilangkannya sepuluh kali lagi dan ia kembali melakukan ‘ritual’ itu. Kemudian, ia memberi tahuku, ’Kakak cocok kak sama abang itu.’  Aku menghela napas. Hufft.. terima kasih dik atas.. entahlah atas apa. Yang jelas kau mengingatkan ku atas permainan jodoh masa kecil itu yang sekarang makin bervariasi.

Percaya kan ? Kau tak akan pernah menduga celetukan apa yang mereka lontarkan pada mu.. Keluguan itu, kecerdasan alami itu, keingintahuan itu.. akan semakin terkikis seiring bertambahnya umur dan proses pendewasaan,
jadi.. rindukanlah. 

Jika kau tak pernah ingat dengan apa yang kau katakan pada orang tua mu sewaktu kecil, cobalah ingat celetukan celetukan mereka yang mungkin bisa membuatmu tersenyum disaat-saat kau butuh akan sebuah senyuman..

Kau pasti merindukannya. Ya, suatu waktu, pasti kau akan merindukannya. Bagaimana menurutmu ?
***
-SELESAI-

No comments: