‘Boleh aku minta yang itu ?’
Aku masih
terpaku di halaman tumblr itu. Tak bisa berkata-kata, hanya memperhatikan
setiap baris tulisan tersebut. Alizeti bercerita tentang lilin, tentang
percakapannya dengan salah seorang kakak, tentang pertemuan dengan Ka Salma,
dan tentang curahan cintanya dan kebanggaannya pada setiap anaknya. Aku meresapinya
dalam-dalam, mencoba memahami dan masuk menjadi seorang yang ditujukan tulisan
itu – menjadi seorang Kak Salma yang mendapat sejuta kasih dan titipan cinta
sederhanaMu melalui seorang Alizeti di miladnya hari itu.
Aku iri. Aku
ingin seperti itu. Aku tak bermaksud menuntut hadiah ketika milad ku nanti,
pada siapa pun.. di rumah ku bersama saudara selamanya, pada agen-agen
kebaikan, bahkan di team super keren, aku tak ingin mereka memberiku sebuah
hadiah karena mungkin mereka membaca ini. Rengekkan seorang adik kecil yang iri
melihat salah satu kakaknya mendapat hadiah milad.
*
Di akhir
tulisan sederhana seorang Alizeti pada halaman itu, tertulis ;
“ PS : yang lain
jangan iri :P kalian juga selalu di sayang ^.~ ada giliran saya mengungkapkan
sayang ke kalian :) semoga caranya tidak pernah sama. Hingga terasa begitu
istimewa untuk diingat. “
Kekecewaan itu tiba-tiba saja muncul.
Entah hal apa yang aku kecewakan. Tak diberi hadiah milad? Bukan. Lalu ? Kelelahanmu menunggu ungkapan sayang seperti
apa yang Salma dapat ? Mungkin. Atau mungkin kau kurang merasakan kasih sayang
mereka yang begitu besar? Bukan hanya padamu tapi pada kawan-kawanmu yang lain?
Hemm.. Mungkin benar.
Aku merasa hidup ini begitu datar
bersama mereka pikirku, ya.. aku ingin sesuatu yang istimewa, yang berbeda,
yang membuat hidup ini, amanah ini tidak hanya sekadar amanah, tidak hanya
sekadar satu pekerjaan yang menuntut untuk diselesaikan, melainkan satu momen
dimana dalam amanah itu kita bisa saling terikat satu sama lain. Saling
menyayangi dan memiliki – sebagai satu keluarga.
Hingga beberapa detik kemudian ketika
aku masih tertegun melihat tulisan itu, hati ini menjerit,
‘ Bolehkah aku minta yang itu ? Seorang Alizeti ?. ‘
Ya,Tuhan.., seorang Alizeti untukku.
Seorang kadep yang membuatku selalu ingin berada didekatnya walau ia bukan
milikku seutuhnya. Seorang kadep yang luar biasa dan sangat mensyukuri mereka
yang kau kirim untuknya, menemaninya dirumah itu, ceria bersama, menggila
bersama bahkan menangis bersama..
Seorang kadep yang agaknya menjadi seorang ibu yang tangguh untuk melindungi
dan mengajari anak-anaknya akan arti perjuangan.. Seorang kadep yang..
karenanya aku ‘dibutakan’ karena
terlalu menyanyanginya..
‘ Tuhan, jika Engkau berkenan, kirimi aku seorang Alizeti
lain.. atau paling tidak jadikanlah mereka sesosok Alizeti baru yang unik,
seperti apa adanya mereka..’
*
bersambung..
No comments:
Post a Comment