Kembali membuka
cerita yang sudah selesai
Ternyata.. Masih
ada lembaran kosong untuk melanjutkannya
Tinta ini
masih cukup untuk menulis
Bahkan, pada
saatnya nanti menggoreskan cerita bersama
Dalam satu
pena
Mungkin saja..
Aku berjalan
di belakang wanita-wanita yang memiliki kecantikan alami
Menutupi diriku
sendiri agar tak terlihat oleh ia yang ku tunggu kehadirannya
Tapi tak
kuharap interaksi dengannya..
Tapi apa
daya
Matanya lebih
tajam dari sorotan elang
Ia memanggilku
Menyapa dengan
iseng
Dengan senyum
nakalnya
Dan berujung
pada perdebatannya dengan seorang kawan yang membelaku
Terima kasih, ujarku dalam hati..
Aku menyingkir
dari mereka
Menjauh
Dan mencoba
berkata ‘ Tuhan tolong jauhi aku darinya’
Lima menit,
Sepuluh menit
Aku mengobrol,
bersenda gurau dengan yang lain
Tak menginginkan
ia melihatku
Atau menyapaku
lagi
Tidak!
Tolong jangan!
Menjauhlah!
Setengah
jam, satu jam
Arloji menunjukkan
pukul tiga sore
Jarak antara
kami segaris lurus
Aku berada
di ujung lapangan ia ditengah
Garis itu
memang tak ada.. aku hanya membuatnya saja
Ia mengambil
sebuah mikrofon
Mengajak kami
untuk ke tengah
Ia menjadi
master of ceremony hari itu
Aku hanya
geleng-geleng kepala
Mengingat akan
sejuta tindakan aneh yang mungkin akan ia lakukan
Ah, tidak,
bukan mungkin, pasti ia lakukan
Seperti biasa..
Satu dua
kali tak ada yang menggubris panggilannya
Satu dua
orang pun ia panggil sampai pada satu ketika..
Ia memanggil
namaku , ya, memanggilku..
Seolah ia tak
tahu lagi harus memanggil siapa
Hey! Kau
memanggilku?
Ada apa
gerangan?
Hati ini
tersenyum entah mengapa
Itu sebenarnya
hanya sapaan biasa, tapi.. kau ingat ?
Ya, ingatkah
kau dengan
Sejuta kisah
dingin ku dengannya sejak pertemuan terakhir waktu itu ?
Sejuta kenangan
yang ingin kita lupakan ?
Sejuta cerita
yang ingin kita sembunyikan ?
Dan sejuta
kernyitan senyuman yang meledek dibelakang kami ketika kami mengobrol ?
Bagaimana tidak
aku ingin melupakannya..
Tapi hari
ini, ia menyapaku
Memanggil namaku
walau hanya sapaan biasa yang menggema
Mungkin orang
tak menyadari
tapi semoga menjadi
satu isyarat baik
untuk
memulai lagi cerita ini..
Memanggil satu
sama lain dengan hangat
Walau tak
akan menjadi satu kisah menggembirakan lagi
Walau tak
akan bisa sama detak jantung ini seperti dulu ketika kau memanggil namaku..
dan
Walau tak
sehangat panggilan rindu kau dengan nya
Aku akan
terus mengenangnya sejak badai menghanyutkan cerita kita
-satu cerita ketika Ia menyapa-
3 Agustus
2013
No comments:
Post a Comment