Malam itu
ada sebuah tanya yang menggelayuti pikiranku walaupun malam tak bertanya pada
ku yang menggelayuti ayunan dibawah pohon . Aku bertanya pada malam yang bisu,
pada bintang yang gugup dan pada bulan yang berdegup. Malam tak akan bicara,
bintang pun mengunci rapat mulutnya dengan meredupkan sinar dan bulan tetap
bersembunyi dibalik awan hitam – karena berdegup melihat aku yang bertanya
padanya. Aku tetap bergelayut pada ayunan dibawah pohon, membisu, gugup dan
berdegup.
Tanyaku adalah
sebuah rindu. Tapi entah mengapa aku membisu, gugup dan berdegup. Langit tak
menghakimi ku seperti mereka yang sibuk mencari argumentasi hingga membuat diri
mereka sendiri membisu, gugup dan berdegup. Aku hanya merindu. Merindu padanya
yang mungkin juga menatap langit dengan segala keanehannya malam ini.
Bergelayut pada tanya dan ayunan dibawah pohon. Di payungi langit malam yang
tak bertanya.
“ Apakah ia
merindukan ku ? “ , tanyaku - Ia adalah sebuah rindu. Bagaimana aku tidak
membisu, gugup dan berdegup ? Ia tak menjawab pertanyaanku. “ Apa kau rindu
pada ku ? “ . apakah ia juga membisu gugup dan berdegup untuk menjawab ?
No comments:
Post a Comment