Aku
bukan Tuhan yang memberimu kehidupan. Tapi tanpa ku kau tak dapat melanjutkan
hidupmu. Aku bukan Tuhan yang setiap detik memperhatikan kehidupanmu walau kau
berada pada jarak lima sentimeter dihadapanku dan apalagi jika kau berada didaratan
diseberang lautan biru yang ombaknya menderu pada situasi tertentu – aku tak
selalu memperhatikanmu. Aku hanya memperhatikanmu pada situasisituasi tertentu.
Sampai
pada malam itu, aku memperhatikanmu terkulai dimeja ruang tamu. Sendirian dalam
dingin dan gelap, ditinggal seorang diri dan tak berdetak. Aku meraihmu dan
merasakan betapa dingin lapisan kulit yang menyelimutimu yang mungkin membuatmu
membeku dan kaku hingga tak berseru. Kemudian,
ku bawa kau kembali pada Tuan mu yang sedang merindu pada nya di
pinggiran malam yang membisu. Entah apa yang terjadi kemudian tapi aku tak
melihatmu lagi dalam beberapa minggu setelah malam itu.
Aku
tak melihatmu berjalan beriring pada pagi yang cerah atau pada malam yang kaku
bersama Tuanmu dalam minggu-minggu awal bulan Agustus. Pernah, satu hari aku
berjalan dan mencoba menghampirimu di meja kayu kamar Tuanmu – tempat dimana
aku bertatap dengan mu malam itu tapi siasia saja, aku tak menemukanmu. Hingga
ku susuri setiap lantai kamar Tuanmu dan mencari-cari mu di tiap sudut kamarnya
yang sederhana. Nihil.
Beberapa
hari yang lalu, aku bertanya pada Tuanmu tentang keberadaan dirimu. Dan ia
menjawab bahwa kau kembali ke tempat mu dahulu, dalam kotak hitam gelap yang
sudah berdebu di sudut lemari pakaian Tuanmu. Gelap. Sendiri. Sunyi. Pantaslah
jika aku tak dapat menemukanmu.
Saat
ku hampiri dirimu di sudut lemari itu, kau tak berdetak. Suara yang berdetik
lembut itu tak terdengar, walau pada
biasanya sehalus apa pun kau berdetak tapi ketika aku menempelkan mu pada
telinga ku aku dapat mendengar suara detik lembut itu. Rindu pada detik lembutmu itu sampai pada satu
hari dimana akhirnya aku dan tuanmu memutuskan untuk memberikan sebuah kekuatan
baru hanya dengan uang dua puluh ribu.
Ya,
dan saat ini..
Detak
detik lembut itu terdengar lagi ditelingaku, bahkan sampai pada malam itu saat
Tuanmu tak berdetak lagi, akankah kau berhenti berdetak lagi dan istirahat
selamanya pada kotak hitam di sudut lemari ? atau.. bisakah detak Tuanmu ku ganti
dengan uang dua puluh ribu ?
Detak
detik lembut itu..
25Agustus2013,
02.16
No comments:
Post a Comment