Sunday, August 25, 2013

Detak Detik



Aku bukan Tuhan yang memberimu kehidupan. Tapi tanpa ku kau tak dapat melanjutkan hidupmu. Aku bukan Tuhan yang setiap detik memperhatikan kehidupanmu walau kau berada pada jarak lima sentimeter dihadapanku dan apalagi jika kau berada didaratan diseberang lautan biru yang ombaknya menderu pada situasi tertentu – aku tak selalu memperhatikanmu. Aku hanya memperhatikanmu pada situasisituasi tertentu.

Sampai pada malam itu, aku memperhatikanmu terkulai dimeja ruang tamu. Sendirian dalam dingin dan gelap, ditinggal seorang diri dan tak berdetak. Aku meraihmu dan merasakan betapa dingin lapisan kulit yang menyelimutimu yang mungkin membuatmu membeku dan kaku hingga tak berseru. Kemudian,  ku bawa kau kembali pada Tuan mu yang sedang merindu pada nya di pinggiran malam yang membisu. Entah apa yang terjadi kemudian tapi aku tak melihatmu lagi dalam beberapa minggu setelah malam itu.

Aku tak melihatmu berjalan beriring pada pagi yang cerah atau pada malam yang kaku bersama Tuanmu dalam minggu-minggu awal bulan Agustus. Pernah, satu hari aku berjalan dan mencoba menghampirimu di meja kayu kamar Tuanmu – tempat dimana aku bertatap dengan mu malam itu tapi siasia saja, aku tak menemukanmu. Hingga ku susuri setiap lantai kamar Tuanmu dan mencari-cari mu di tiap sudut kamarnya yang sederhana. Nihil.

Beberapa hari yang lalu, aku bertanya pada Tuanmu tentang keberadaan dirimu. Dan ia menjawab bahwa kau kembali ke tempat mu dahulu, dalam kotak hitam gelap yang sudah berdebu di sudut lemari pakaian Tuanmu. Gelap. Sendiri. Sunyi. Pantaslah jika aku tak dapat menemukanmu.

Saat ku hampiri dirimu di sudut lemari itu, kau tak berdetak. Suara yang berdetik lembut itu tak terdengar,  walau pada biasanya sehalus apa pun kau berdetak tapi ketika aku menempelkan mu pada telinga ku aku dapat mendengar suara detik lembut itu.  Rindu pada detik lembutmu itu sampai pada satu hari dimana akhirnya aku dan tuanmu memutuskan untuk memberikan sebuah kekuatan baru hanya dengan uang dua puluh ribu.

Ya, dan saat ini..

Detak detik lembut itu terdengar lagi ditelingaku, bahkan sampai pada malam itu saat Tuanmu tak berdetak lagi, akankah kau berhenti berdetak lagi dan istirahat selamanya pada kotak hitam di sudut lemari ? atau.. bisakah detak Tuanmu ku ganti dengan uang dua puluh ribu ?

Detak detik lembut itu..


25Agustus2013, 02.16

No comments: