“ Siapa yang
mengajarkan bahwa aku dan kamu tak boleh bersahabat atau bahkan hanya berteman ? Berdekatan, bagai Tuhan dengan urat
nadi. Bersentuhan seperti seorang ibu yang mengusap derai air mata ketika kau
menangis. Siapa yang mengajarkan ? Ayah ? atau Ibu ? atau bahkan Tuhan ? “
“ Siapa yang bilang jika aku dan kamu
mempunyai batasan atas apa yang dinamakan pergaulan ? Ibu mu yang selalu
melarang kau untuk pergi malam – “ takut diseret
malam yang buas “ kata beliau. Ayah mu yang selalu bilang bahwa masih ada ‘lelaki’
dalam hamparan lelaki di muka bumi . Siapa ? “
“ Adakah
yang dinamakan persahabatan? Padahal sejatinya Tuhan tak pernah menyuruh aku
dan kamu berdekatan bahkan hampir mengalahkan dekatnya Tuhan dengan ku. Tuhan
hanya menyuruhku berdekatan dengan Nya, bersahabat dengan Nya. Bukan dengan
kau.”
“ Adakah
yang dinamakan cinta ? Padahal sejatinya Tuhan hanya menginginkan cinta
tertinggi hanya terpaut pada Nya, pada hatiNya. Jika pun cinta, cintailah ia
yang semakin membuatmu cinta padaNya.”
Jadi,
apalagi yang dicari kalau bukan sebuah kedekatan yang mendekati mu dengan Tuhan* ? Yang tak akan takut jika malam yang buas menyeret karena ada sebenar-benarnya
‘lelaki’ diantara hamparan lelaki yang membawa mu mendekat pada Tuhan.
Tak perlu
takut.
*Ijonk Muhammad , 'Mendekatimu berarti mendekati Tuhan..'
No comments:
Post a Comment