Tuesday, July 9, 2013

Hujan 8 Juli

oleh : Amalita Frantrini N, 8 Juli 2013

Hujan yang tak hujan

Aku melangkah tepat dibelakangnya ketika ia beranjak pergi meninggalkan meja itu. Pantaslah jika ia memang tidak memperhatikan kedatanganku. Aku tak tahu ia akan pergi kemana, yang jelas tak mungkin ia kabur dari pertemuan yang kami janjikan. Yaa, walaupun kabur pasti lah tidak jauh-jauh dari area kantin, ia tak membawa tas nya atau pun perangkat amunisi yang menemaninya dengan setia.

Napasku masih terengah-engah ketika sampai di meja yang isinya hanya ada seorang perempuan dan seorang lelaki. Dapat kutebak, pasti hanya kami berempat lagi yang datang dalam janji itu. Mereka menyambutku dengan sapaan khas mereka. Lelaki itu berkata pada ku,
‘ Yah, cha udah diatasnama-in. Sesama alay diatasnamain sama orang alay juga. Haha’ ujar lelaki itu, aku belum duduk dan langsung shock mendengarnya. Hey! Sesama apa aku dengannya sampai-sampai aku juga dibilang alay ? Rasanya kita harus menyamakan definisi dulu mengenai ke-alay-an baru kau bisa mengatakan itu padaku. ‘Engga deh, sesama yang jago desain, diatasnamain sama yang jago desain juga.’ Ia kembali berujar. Rasanya aku tahu apa maksudnya. Ketua tim ku mengatasnamakan dirinya untuk menandatangani proposal itu. Ya, gara-gara keterlambatanku datang ke pertemuan itu.
***
Tak lama, ia datang. Sang ketua tim. Wajahnya berbeda. Tidak lebih tampan dari biasanya, atau tidak lebih suram dari biasanya. Oo aku salah, mungkin bukan tidak lebih suram, tapi tidak lebih bersemangat dan bersinar dari biasanya. Sekotak nescafe turut duduk bersama nya di meja kami. Lagi – lagi kuperhatikan wajahnya. Suram. Mendung, pertanda hujan mungkin akan turun diwajahnya hari ini. Tapi aku tak bisa membayangkan jika hujan itu benar-benar turun.
Semangatnya hampir tak ada, pandangan matanya menciut dan tawanya tak ada pada nya hari ini. Tidak sedetik pun ia memberi kecerahan pada wajahnya sendiri. Ketika diminta pendapat mengenai ide pun ia hanya menjawab ‘ Lagi gak ada ide’ dan kemudian untuk seterusnya asik sendiri dengan laptopnya.
Entahlah, mungkin ia sakit. Syafakillah jika ia tidak dalam kondisi yang baik hari ini. Tapi, disisi lain, aku berharap ia tak menaruh setitik pun kekesalan pada ku. Aku juga tidak paham, hal apa yang mungkin akan membuatnya kesal gara-gara ku. Heem, banyak sih sepertinya jika dipikir-pikir, tapi segitu teganya kah ia ? kurasa tidak. Aku sudah sering dan cukup banyak komplen mengenai ini, itu, kepadanya tapi tanggapannya positif. Mungkin hal lain yang lebih atau bahkan sangat pribadi. Lagi-lagi entahlah. Aku hanya dapat berspekulasi hingga detik tulisan ini sampai di depan laptopmu.
***
Tiba-tiba saja pikiranku mendarat pada Ka Siti, ketua departemen syiar yang begitu mempesona. Cerdas, lincah, kreatif, dan anti konvensional. Ketua tim ku itu juga seperti itu asalkan ia lebih berani lagi menunjukkan taringnya. Ia tak seberani Ka Siti, itu makanya ia tak begitu mempesona. Ia hanya orang yang selalu bekerja dibalik laptopASUS nya. Hanya terkadang ide-ide dan keinginan briliannya yang cukup membuatku takjub. Pikiran kami hampir sama. Jika aku mengajukan surat komplenku di facebooknya ia juga menanggapi dengan pemberian solusi yang hampir mendekati dengan solusi dari ku, tapi ya itu entah apa yang membuatnya kurang mempesona seperti Ka Siti. Tapi aku tak akan membandingkannya lebih jauh dengan Ka Siti. Ka Siti biarlah menjadi Ka Siti yang seperti itu dan ketua tim ku itu biarlah menjadi dirinya sendiri yang hidup pada dunia yang ia mengerti sendiri.

Lalu, apa kabar hujan hari ini ?. Mendung itu masih nampak pada wajahnya tapi hujannya tertahan entah dimana. Sampai kami berpisah pun, kurasa mendung enggan beranjak dari nya sampai ia dapat menyinari sendiri wajahnya dengan keceriaan yang ia hidupkan sendiri.

Terakhir, mengutip perkataan dari Sapardi , ‘Aku mencintaimu, itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu. ‘

Ya, semoga hujan atau badai yang mungkin akan menimpamu itu tidak membahayakan keselamatanmu, ketua tim ku yang akan mempesona. 

No comments: