Hujan
yang tak hujan
Aku melangkah tepat dibelakangnya ketika ia beranjak pergi meninggalkan
meja itu. Pantaslah jika ia memang tidak memperhatikan kedatanganku. Aku tak
tahu ia akan pergi kemana, yang jelas tak mungkin ia kabur dari pertemuan yang
kami janjikan. Yaa, walaupun kabur pasti lah tidak jauh-jauh dari area kantin,
ia tak membawa tas nya atau pun perangkat amunisi yang menemaninya dengan
setia.
Napasku masih terengah-engah ketika sampai di meja yang isinya hanya ada
seorang perempuan dan seorang lelaki. Dapat kutebak, pasti hanya kami berempat
lagi yang datang dalam janji itu. Mereka menyambutku dengan sapaan khas mereka.
Lelaki itu berkata pada ku,
‘ Yah, cha udah diatasnama-in. Sesama alay diatasnamain sama orang alay
juga. Haha’ ujar lelaki itu, aku belum duduk dan langsung shock mendengarnya.
Hey! Sesama apa aku dengannya sampai-sampai aku juga dibilang alay ? Rasanya
kita harus menyamakan definisi dulu mengenai ke-alay-an baru kau bisa
mengatakan itu padaku. ‘Engga deh, sesama yang jago desain, diatasnamain sama yang
jago desain juga.’ Ia kembali berujar. Rasanya aku tahu apa maksudnya. Ketua
tim ku mengatasnamakan dirinya untuk menandatangani proposal itu. Ya, gara-gara
keterlambatanku datang ke pertemuan itu.
***
Tak lama, ia datang. Sang ketua tim. Wajahnya berbeda. Tidak lebih tampan
dari biasanya, atau tidak lebih suram dari biasanya. Oo aku salah, mungkin
bukan tidak lebih suram, tapi tidak lebih bersemangat dan bersinar dari
biasanya. Sekotak nescafe turut duduk bersama nya di meja kami. Lagi – lagi
kuperhatikan wajahnya. Suram. Mendung, pertanda hujan mungkin akan turun
diwajahnya hari ini. Tapi aku tak bisa membayangkan jika hujan itu benar-benar
turun.
Semangatnya hampir tak ada, pandangan matanya menciut dan tawanya tak ada
pada nya hari ini. Tidak sedetik pun ia memberi kecerahan pada wajahnya
sendiri. Ketika diminta pendapat mengenai ide pun ia hanya menjawab ‘ Lagi gak
ada ide’ dan kemudian untuk seterusnya asik sendiri dengan laptopnya.
Entahlah, mungkin ia sakit. Syafakillah jika ia tidak dalam kondisi yang
baik hari ini. Tapi, disisi lain, aku berharap ia tak menaruh setitik pun
kekesalan pada ku. Aku juga tidak paham, hal apa yang mungkin akan membuatnya
kesal gara-gara ku. Heem, banyak sih sepertinya jika dipikir-pikir, tapi segitu
teganya kah ia ? kurasa tidak. Aku sudah sering dan cukup banyak komplen
mengenai ini, itu, kepadanya tapi tanggapannya positif. Mungkin hal lain yang
lebih atau bahkan sangat pribadi. Lagi-lagi entahlah. Aku hanya dapat
berspekulasi hingga detik tulisan ini sampai di depan laptopmu.
***
Tiba-tiba saja pikiranku mendarat pada Ka Siti, ketua departemen syiar yang
begitu mempesona. Cerdas, lincah, kreatif, dan anti konvensional. Ketua tim ku
itu juga seperti itu asalkan ia lebih berani lagi menunjukkan taringnya. Ia tak
seberani Ka Siti, itu makanya ia tak begitu mempesona. Ia hanya orang yang selalu bekerja dibalik laptopASUS nya. Hanya terkadang ide-ide dan keinginan briliannya
yang cukup membuatku takjub. Pikiran kami hampir sama. Jika aku mengajukan
surat komplenku di facebooknya ia juga menanggapi dengan pemberian solusi yang
hampir mendekati dengan solusi dari ku, tapi ya itu entah apa yang membuatnya
kurang mempesona seperti Ka Siti. Tapi aku tak akan membandingkannya lebih jauh
dengan Ka Siti. Ka Siti biarlah menjadi Ka Siti yang seperti itu dan ketua tim
ku itu biarlah menjadi dirinya sendiri yang hidup pada dunia yang ia mengerti
sendiri.
Lalu, apa kabar hujan hari ini ?. Mendung itu masih nampak pada wajahnya
tapi hujannya tertahan entah dimana. Sampai kami berpisah pun, kurasa mendung
enggan beranjak dari nya sampai ia dapat menyinari sendiri wajahnya dengan
keceriaan yang ia hidupkan sendiri.
Terakhir, mengutip perkataan dari Sapardi , ‘Aku mencintaimu, itu sebabnya
aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu. ‘
Ya, semoga hujan atau badai yang mungkin akan menimpamu itu tidak
membahayakan keselamatanmu, ketua tim ku yang akan mempesona.
No comments:
Post a Comment