Untaian
kata seperti lebah, berkerumun, berdengung..
Beberapa percakapan yang seharusnya (bisa) diingat, percakapan 3 Agustus 2013, mulai sekitar pukul 13 dan berakhir sekitar 19.30-
-Sabtu
siang sekitar pukul 13-
Sepi.
Baru ada beberapa orang saja disana. Entah berapa persisnya. Aku tak ingin
menghitungnya, yang jelas ada beberapa orang duduk dibawah tangga, disamping
kolam renang itu. Wajahnya belum aku tau pasti siapa saja. Masih menebak dalam
pikiran, dan ternyata benar salah satunya adalah dia.
Aku
turun menapaki tangga yang berjarak tidak lebih dari satu meter, dengan
ukurannya yang agak kecil membuat kami agak susah melangkah – maksudnya aku –
ya untuk menghindari kalau-kalau saja dia menyapa. Dan benar saja, dia mulai
menyapa kami yang datang saat itu satu per satu, dengan gaya khas basa-basinya
yang terlalu percaya diri.
‘ Eh, Rika apa kabar rik ? Gimana
di Padang ?. Waduuh Indri, Rizka gimana kemarin ifthor sekawan? Dateng ? Wih,
Syifa gimana kabar?..’
Jujur
jantungku berdebar saat dia mulai menyapa teman-temanku yang berada didepanku
dan nampak oleh pandangannya. Apakah dia akan menyapaku ? atau tidak ?.
Mengingat satu cerita yang pernah kita goreskan di halaman putih abu-abu – satu waktu, satu cerita yang kemudian membuat hubungan kami kurang
baik.
Sebenarnya
aku ingin dia tak usah menyapa ku, tapi apa daya, dia melihat ku dan (mungkin)
mulai mencoba membawa suasana cair kembali. ‘
Waduh, ( menyebut nama depan ku ) .makin subur aja.’
Awalnya aku ingin tertawa, sapaannya begitu unik dibandingkan dengan
kawanku yang lain, terlalu bersemangat atau terlalu ingin untuk mencairkan
suasana antara aku dan dia, aku pikir sapaan itu sangat aneh ditelinga. Memanggil
dengan nama depanku, dan dengan embel- embel yang.. ah, sudah lah kau sudah
tau. Sampai seorang kawanku yang duduk di sebelahnya pun menegurnya sambil senyum-senyum –
ya mungkin karena terlalu ‘aneh’ , ‘ Ih, apa si lo,’ Ia kembali
senyum-senyum, ku rasa ia menahan tawanya yang mungkin akan meledak. ‘ Dih kenapa ? Loh itu..’ Kawanku itu memotong
perkataan dia, ‘ Ya tapi kan gak enak , gimana si lu. Sensitif tau itu.’ Aku hanya bergumam dalam hati, andai ia tahu
aku sudah mengurus...
Kawanku dan dia masih terlibat pembicaraan masalah sapaan dia pada ku tadi. Aku
hanya dapat mendengarnya samar-samar, sambil berlalu ke sebuah gubuk dekat
kolam renang itu – sedang yang dinasihati hanya menunduk, melinting-linting
kertas dan tersenyum. Entah apa yang terlintas dipikirannya.
*
bersambung..
No comments:
Post a Comment